Rabu, 02 Mei 2012

Kisah Dzulqarnain dalam Surat Al-Kahfi

Kisah Dzulqarnain telah diterangkan Al-Qur`an secara panjang lebar dalam Surat Al-Kahfi ayat 83-99. Berikut adalah penjelasannya.
“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah: ‘Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.’ Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka diapun menempuh suatu jalan. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: ‘Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.’ Berkata Dzulqarnain: ‘Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengadzabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Rabbnya, lalu Dia mengadzabnya dengan adzab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami’.” (Al-Kahfi: 83-88)
Dahulu, ahli kitab atau kaum musyrikin bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kisah Dzulqarnain. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan beliau untuk mengatakan:
“Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.”
Cerita yang mengandung berita yang memberi kecukupan dan pembicaraan yang mengagumkan. Maksudnya, aku akan bacakan kepada kalian tentang Dzulqarnain, yang bisa menjadi ibrah (pelajaran). Adapun hal-hal lain yang tidak menjadi pelajaran, beliau tidak membacakannya kepada mereka.

“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi.”
Maksudnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kekuasaan dan memantapkan pengaruhnya di segenap penjuru bumi, dan ketundukan mereka kepadanya.
“Dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka diapun menempuh suatu jalan.”
Maksudnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan sebab-sebab (sarana) yang menyampaikan kepada kedudukan yang dicapainya itu. Sarana-sarana itu membantunya untuk menaklukkan berbagai negeri, memudahkannya mencapai tempat-tempat yang paling jauh yang dihuni manusia. Dia menggunakan sarana-sarana yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan itu, sesuai dengan fungsinya. Karena tidak setiap orang yang mempunyai sebuah sarana, kemudian dia (mau) menjalaninya. Dan tidak setiap orang mempunyai kemampuan untuk menjalani sebab itu. Sehingga, ketika terkumpul antara kemampuan untuk menjalani sebab yang hakiki dan (kemauan) menjalaninya, tercapailah tujuan. Dan bila keduanya (kemampuan dan kemauan) atau salah satunya tidak ada, maka tujuan tidak akan tercapai.
Sarana-sarana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada Dzulqarnain tidak diberitakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita. Tidak pula berita-berita itu dinukilkan para ahli sejarah kepada kita dengan penukilan yang meyakinkan. Maka, tidak ada yang pantas bagi kita kecuali diam serta tidak melihat pada apa yang disebutkan para penukil kisah Israiliyat dan yang semacamnya. Hanya saja kita tahu secara global bahwa sebab-sebab tersebut kuat dan banyak, baik sebab internal maupun eksternal. Dengan sebab-sebab itu, dia mempunyai pasukan yang besar, banyak personil dan perlengkapannya, serta diatur dengan baik. Dengan pasukan tersebut, dia mampu mengalahkan musuh-musuh, memudahkannya untuk sampai ke belahan timur, barat maupun segenap penjuru bumi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan sebab kepadanya yang mengantarkannya sampai ke tempat terbenamnya matahari, hingga dia melihat matahari dengan mata kepala seakan-akan matahari itu tenggelam di lautan yang hitam. Dan ini biasa bagi orang yang hanya ada air (lautan) antara dia dan ufuk terbenamnya matahari. Dia melihat bahwa matahari tenggelam ke dalam laut itu, meskipun dia berada pada puncak ketinggian.
Di sana, yakni di tempat terbenamnya matahari tersebut, Dzulqarnain menemukan sekelompok manusia.ا
“Kami berkata: ‘Hai Dulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.’”
Yakni, engkau bisa mengadzab mereka dengan pembunuhan, pukulan, atau menawan mereka dan semacamnya. Atau engkau berbuat baik kepada mereka. Dzulqarnain diberi dua pilihan, karena –yang nampak– kaum itu adalah orang kafir atau fasik, atau mereka memiliki sebagian sifat-sifat tersebut. Karena bila mereka adalah kaum yang beriman bukan orang fasik, tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikan keringanan bagi Dzulqarnain untuk mengadzab mereka. Ini menunjukkan bahwa Dzulqarnain memiliki as-siyasah asy-syar’iyyah yang menjadikannya berhak dipuji dan disanjung, karena taufiq yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya. Dia lalu berkata: “Aku akan menjadikan mereka dua bagian:
“Adapun orang yang aniaya.” Yakni kafir.
“Maka kami kelak akan mengadzabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Rabbnya, lalu Dia mengadzabnya dengan adzab yang tidak ada taranya.” Yakni, orang yang aniaya akan mendapatkan dua hukuman, hukuman di dunia dan di akhirat.
“Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan.” Yakni sebagai balasannya, dia akan mendapatkan surga kedudukan yang baik di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat.

“Dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.”
Yakni, kami akan berbuat baik kepadanya, berlemah lembut dalam tutur kata, dan kami permudah muamalah baginya. Ini menunjukkan bahwa Dzulqarnain termasuk raja yang shalih, wali Allah Subhanahu wa Ta’ala yang adil lagi berilmu, di mana dia menepati keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan memperlakukan setiap orang sesuai dengan kedudukannya.
“Kemudian dia menempuh jalan (yang lain).
Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu,
demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya.
Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi).
Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.
Mereka berkata: ‘Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya`juj dan Ma`juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?’
Dzulqarnain berkata: ‘Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka,
berilah aku potongan-potongan besi.’ Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: ‘Tiuplah (api itu).’ Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu.’
Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya.
Dzulqarnain berkata: ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku, maka apabila telah datang janji Rabbku Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Rabbku itu adalah benar’.” (Al-Kahfi: 89-98)
Maksudnya, Dzulqarnain mendapati matahari terbit di atas komunitas manusia yang tidak memiliki pelindung dari sinar matahari. Bisa jadi karena mereka tidak menyiapkan tempat tinggal, karena mereka masih liar, tidak beradab, dan nomaden. Atau bisa juga karena matahari selalu berada di atas mereka, tidak pernah tenggelam. Sebagaimana hal ini terjadi di wilayah Afrika Timur bagian selatan. Dzulqarnain telah sampai kepada suatu tempat yang belum pernah diketahui penduduk bumi, terlebih pernah mereka datangi (secara fisik) dengan tubuh mereka. Namun demikian, ini semua terjadi dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala atas Dzulqarnain dan pengetahuannya terhadap hal itu. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya.” (Al-Kahfi: 91)
Maksudnya, Kami mengetahui kebaikan dan sebab-sebab agung yang ada padanya, dan ilmu Kami bersamanya, kemanapun ia menuju dan berjalan.

“Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan keduanya suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.” (Al-Kahfi: 92-93)
Para ahli tafsir berkata: Dzulqarnain pergi dari arah timur menuju ke utara. Sampailah dia di antara dua dinding penghalang. Kedua dinding penghalang itu adalah rantai pegunungan yang dikenal pada masa itu, yang menjadi penghalang antara Ya`juj dan Ma`juj dengan manusia. Di hadapan kedua gunung itu, dia menemukan suatu kaum yang hampir-hampir tidak bisa memahami pembicaraan, karena asingnya bahasa mereka dan tidak cakapnya akal dan hati mereka. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi Dzulqarnain sebab-sebab ilmiah yang dengannya bahasa kaum itu menjadi bisa dipahami dan dia memahamkan mereka. Dia bisa berbicara kepada mereka dan mereka bisa berbicara kepadanya. Mereka kemudian mengeluhkan kejahatan Ya`juj dan Ma`juj kepada Dzulqarnain. Mereka merupakan dua umat yang besar dari keturunan Adam ‘alaihissalam.
Kaum itu berkata:
“Sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi.” (Al-Kahfi: 94)
yaitu dengan melakukan pembunuhan, perampokan, dan lain-lain.
“Maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu....” (Al-Kahfi: 94)
maksudnya upah.
“Supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” (Al-Kahfi: 94)
Hal ini menunjukkan ketidakmampuan mereka untuk membangun dinding penghalang, dan mereka mengetahui kemampuan Dzulqarnain untuk membangunnya. Mereka pun memberikan upah kepadanya untuk melakukannya. Mereka menyebutkan sebab yang mendorong hal itu, yaitu perusakan Ya`juj dan Ma`juj di bumi. Dzulqarnain bukanlah orang yang tamak, dia tidak memiliki keinginan terhadap harta dunia. Namun dia juga tidak meninggalkan perbaikan keadaan rakyat. Bahkan tujuannya adalah perbaikan. Sehingga dia memenuhi permintaan mereka karena kemaslahatan yang terkandung di dalamnya. Dia tidak mengambil upah dari mereka. Dia bersyukur kepada Rabbnya atas kekokohan dan kemampuannya. Dzulqarnain berkata kepada mereka:
“Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku adalah lebih baik.” (Al-Kahfi: 95)
Maksudnya, lebih baik daripada apa yang kalian berikan kepadaku. Aku hanyalah meminta kalian untuk membantuku dengan kekuatan tangan-tangan kalian.
“Agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.” (Al-Kahfi: 95)
Yakni sebagai penghalang agar mereka tidak melintasi kalian.
“Berilah aku potongan-potongan besi.” (Al-Kahfi: 96)
Merekapun memberinya.
“Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu.” (Al-Kahfi: 96)
yaitu dua gunung yang antara keduanya dibangun penghalang.

“Berkatalah Dzulqarnain: ‘Tiuplah (api itu)’.” (Al-Kahfi: 96)
Maksudnya, nyalakanlah dengan nyala yang besar. Gunakanlah alat tiup agar nyalanya membesar, sehingga tembaga itu meleleh. Tatkala tembaga itu meleleh, yang hendak dia tuangkan di antara potongan-potongan besi,
“Berilah aku tembaga agar kutuangkan ke atas besi panas itu.” (Al-Kahfi: 96)
Maksudnya, tembaga yang mendidih. Aku tuangkan tembaga yang meleleh ke atasnya. Maka dinding penghalang itu menjadi luar biasa kokoh. Terhalangilah manusia yang berada di belakangnya dari kejahatan Ya`juj dan Ma`juj.
“Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya.” (Al-Kahfi: 97)
Maksudnya, mereka tidak memiliki kemampuan dan kekuatan untuk mendakinya karena tingginya penghalang itu. Tidak pula mereka bisa melubanginya karena kekokohan dan kekuatannya. Setelah melakukan perbuatan baik dan pengaruh yang mulia, Dzulqarnain menyandarkan nikmat itu kepada Pemiliknya. Dia berkata:
“Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku.” (Al-Kahfi: 98)
Maksudnya, merupakan karunia dan kebaikan-Nya terhadapku. Inilah keadaan para khalifah yang shalih. Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan nikmat-nikmat yang mulia kepada mereka, bertambahlah syukur, penetapan, dan pengakuan mereka akan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana ucapan Sulaiman ‘alaihissalam ketika singgasana Ratu Saba` tiba di hadapannya dari jarak yang sedemikian jauh:
“Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya.” (An-Naml: 40)
Ini berbeda dengan orang yang congkak, sombong, dan merasa tinggi di muka bumi. Nikmat-nikmat yang besar menjadikan mereka bertambah congkak dan sombong. Sebagaimana ucapan Qarun ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya perbendaharaan yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. Dia berkata:
“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (Al-Qashash: 78)
Ucapan Dzulqarnain:

“Maka apabila sudah datang janji Rabbku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Rabbku itu adalah benar.” (Al-Kahfi: 98)
Maksudnya, waktu keluarnya Ya`juj dan Ma`juj.
“Dia akan menjadikannya....” (Al-Kahfi: 98)
Maksudnya, menjadikan dinding penghalang yang kuat dan kokoh itu ﭜﭝ (hancur luluh), dan runtuh. Ratalah dinding itu dengan tanah.
“Dan janji Rabbku itu adalah benar.” (Al-Kahfi: 98)

“Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain.” (Al-Kahfi: 99)
Bisa jadi dhamir (kata ganti mereka) kembali kepada Ya`juj dan Ma`juj –ketika mereka keluar kepada manusia– karena banyaknya jumlah mereka dan meliputi seluruh permukaan bumi, sehingga mereka berbaur satu sama lain. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Hingga apabila dibukakan (dinding) Ya`juj dan Ma`juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” (Al-Anbiya`: 96)
Bisa juga kata ganti tersebut kembali kepada seluruh makhluk pada hari kiamat. Mereka berkumpul pada hari itu dalam keadaan banyak sehingga bercampur-aduk antara satu dengan yang lain....”
(Diambil dari Taisir Al-Karimirrahman karya Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah, hal. 486-487)

REBO WEKASAN



Oleh Abu ‘Abdillah Kediri



Di antara anggapan dan keyakinan keliru yang terjadi di bulan Shafar adalah adanya sebuah hari yang diistilahkan dengan Rebo Wekasan. Dalam bahasa Jawa ‘Rebo’ artinya hari Rabu, dan ‘Wekasan’ artinya terakhir. Kemudian istilah ini dipakai untuk menamai hari Rabu terakhir pada bulan Shafar (diperkirakan pada bulan Shafar tahun ini (1431 H) bertepatan dengan tanggal 10 Februari 2010). Di sebagian daerah, hari ini juga dikenal dengan hari Rabu Pungkasan.

Apakah Rebo Wekasan itu?

Sebagian kaum muslimin meyakini bahwa setiap tahun akan turun 320.000 bala’, musibah, ataupun bencana (dalam referensi lain 360.000 malapetaka dan 20.000 bahaya), dan itu akan terjadi pada hari Rabu terakhir bulan Shafar. Sehingga dalam upaya tolak bala’ darinya, diadakanlah ritual-ritual tertentu pada hari itu. Di antara ritual tersebut adalah dengan mengerjakan shalat empat raka’at -yang diistilahkan dengan shalat sunnah lidaf’il bala’ (shalat sunnah untuk menolak bala’)- yang dikerjakan pada waktu dhuha atau setelah shalat isyraq (setelah terbit matahari) dengan satu kali salam. Pada setiap raka’at membaca surat Al-Fatihah kemudian surat Al-Kautsar 17 kali, surat Al-Ikhlas 50 kali (dalam referensi lain 5 kali), Al-Mu’awwidzatain (surat Al-Falaq dan surat An-Nas) masing-masing satu kali. Ketika salam membaca sebanyak 360 kali ayat ke-21 dari surat Yusuf yang berbunyi:

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ.

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.”

Kemudian ditambah dengan Jauharatul Kamal tiga kali dan ditutup dengan bacaan (surat Ash-Shaffat ayat 180-182) berikut:

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Ritual ini kemudian dilanjutkan dengan memberikan sedekah roti kepada fakir miskin. Tidak cukup sampai di situ, dia juga harus membuat rajah-rajah dengan model tulisan tertentu pada secarik kertas, kemudian dimasukkan ke dalam sumur, bak kamar mandi, atau tempat-tempat penampungan air lainnya.

Barangsiapa yang pada hari itu melakukan ritual tersebut, maka dia akan terjaga dari segala bentuk musibah dan bencana yang turun ketika itu.

Kaum muslimin rahimakumullah, dari mana dan siapakah yang mengajarkan tata cara / ritual ‘ibadah’ seperti itu?

Dalam sebagian referensi disebutkan bahwa di dalam kitab Kanzun Najah karangan Syaikh Abdul Hamid Kudus yang katanya pernah mengajar di Masjidil Haram Makkah Al-Mukarramah, diterangkan bahwa telah berkata sebagian ulama ‘arifin dari ahli mukasyafah[1] bahwa pada setiap tahun akan turun 360.000 malapetaka dan 20.000 bahaya, yang turunnya pada setiap hari Rabu terakhir bulan Shafar. Bagi yang shalat pada hari itu dengan tata cara sebagaimana tersebut di atas, maka akan selamat dari semua bencana dan bahaya tersebut.

Mungkin inilah yang dijadikan dasar hukum tentang ‘disyari’atkannya’ ritual di hari Rebo Wekasan tersebut. Namun ternyata amaliyah yang demikian tidak ada dasarnya sama sekali dari Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Generasi salaf dari kalangan shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in tidak pernah melakukan apalagi mengajarkan ritual semacam itu. Demikian pula generasi setelahnya yang senantiasa mengikuti jejak mereka dengan baik.

Keyakinan tentang Rebo Wekasan sebagai hari turunnya bala’ dan musibah adalah keyakinan yang batil. Lebih batil lagi karena berangkat dari keyakinan tersebut, dilaksanakanlah ritual tertentu untuk menolak bala’ dengan tata cara yang disebutkan di atas. Sementara keyakinan dan ritual tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum, dan tidak pula dicontohkan oleh para imam madzhab yang empat (Abu Hanifah, Malik bin Anas, Asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal), tidak pula mereka membimbing dan mengajak para murid serta pengikut madzhabnya untuk melakukan yang demikian.

Para ulama dan kaum muslimin yang senantiasa menjaga aqidah dan berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya hingga hari ini -sampai akhir zaman nanti- juga tidak akan berkeyakinan dengan keyakinan seperti ini dan tidak pula beramal dengan amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi salaf tersebut.

Jika keyakinan dan ritual ibadah tersebut tidak berdasar pada Al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak pula sebagai amalan para shahabat radhiyallahu ‘anhum dan para imam madzhab yang empat, maka sungguh amalan tersebut bukan bagian dari agama yang murni. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk bimbingan dan petunjuk kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim).

Semoga Allah subhanahu wata’ala senantiasa menjaga kita dan kaum muslimin dari berbagai penyimpangan dalam menjalankan agama ini. Amin.

------------
[1] Istilah ulama ‘arifin (secara bahasa maknanya adalah orang-orang yang mengetahui) dan ahli mukasyafah (secara bahasa maknanya adalah orang-orang yang bisa menyingkap) inipun juga tidak dikenal di kalangan salaf. Istilah ini dikenal di kalangan penganut paham shufiyyah sebagai penamaan bagi orang-orang ‘khusus’ yang mengerti sesuatu tanpa melalui proses belajar, dalam bahasa jawa disebut ngerti sakdurunge winarah. Mereka -yakni ulama ‘arifin dan ahli mukasyafah itu- juga diyakini bisa bertemu langsung dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bahkan bertemu dengan Allah subhanahu wata’ala di dunia maya, sehingga mereka bisa menyingkap sesuatu (dari perkara ghaib) yang tidak bisa diketahui oleh selain mereka.

Ini semua tentunya adalah keyakinan yang batil, dan pembahasan seperti ini sangatlah panjang. Yang penting bagi kita adalah berupaya menjalankan agama ini -beraqidah, beribadah, berakhlak, bermu’amalah, dan lainnya dari urusan diniyyah- benar-benar bersumber dan sesuai dengan bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman as-salafus shalih, bukan pemahaman selain mereka. Wallahu a’lam.

Sumber :
www.assalafy.org/mahad/?p=448#more-448

Selasa, 01 Mei 2012

PENELITIAN ILMIAH TERHADAP ORANG KAYA BARU


Sindrom OKB (Orang Kaya Baru)

Lupa kacang akan kulitnya adalah sebuah peribahasa.Ungkapan yang layak diberikan pada orang yang lupa akan dirinya. Dia terkadang melupakan keaadan semula yang telah dilalui sebelumnya. Semua yang telah diraihnya sekarang, dalam anggapannya  hasil yang diraih sekarang adalah usaha semata-mata dari dirinya. Dia  merasa bahwa  telah berusaha maksimal, maka bila hasil yang diraihnya memuaskan maka itu adalah hasil usaha yang keras.
 Lupalah dia kepada siapa yang telah menciptakannya. Menakdirkan kehidupan yang lalu dan kehidupan yang akan datang pada dirinya.Tak pernah terlintas dalam pikirannya untuk tujuan apa dia hidup di dunia. Seakan-akan hidupnya di dunia ini untuk selamanya.Sehingga lupa untuk mensyukurinya. Marilah kita belajar dari kisah berikut ini.
Dari Abu Hurairoh r.a. katanya dia mendengar Rasulullah SAW bercerita: “Ada tiga orang Bani Israil penderita cacat, masing-masing penderita kusta, berkepala botak, dan buta. Allah Taala bermaksud hendak menguji mereka. Lalu Allah mengirim seorang malaikat kepada mereka.
Mula-mula didatanginya penderita kusta seraya berkata kepadanya,” Apakah yang  paling engkau sukai?” Jawabnya,” Warna dan kulit yang bagus, serta kesembuhan dari penyakit yang menyebabkan orang jijik kepadaku.”. Maka diusapnya orang itu, lalu sembuh penyakitnya. Kemudian diberinya dia warna dan kulit yang bagus. Kata malaikat, “Harta apa yang paling engkau sukai?” Jawab orang itu, “ Unta!” Lalu diberinya unta bunting yang hampir beranak. Malaikat mendoakannya, Semoga Allah memberi berkah bagimu dengan pemberian ini.”
Sesudah itu malaikat mendatangi orang yang berkepala botak . Katanya, “apa yang paling engkau sukai?” jawab orang itu, “Rambut indah dan hilangnya aib yang menyebabkan orang benci kepadaku”. Maka diusapnya orang itu, lalu hilanglah aib dirinya. Kemudian diberinya pula rambut yang indah. Tanya malaikat, “ Harta apa yang paling engkau sukai?’ Jawab orang itu, “Sapi!” Maka diberinya orang itu sapi bunting seraya berkata, “Semoga Allah memberkati kamu dengan pemberian ini.” Kemudian malaikat mendatangi orang buta seraya berkata, “ Apakah yang paling engkau sukai?” Jawab orang buta, “Semoga Allah mengembalikan penglihatanku supaya aku dapat melihat orang banyak.” Maka diusapnya orang buta itu, lalu di dapat melihat. Kata malaikat, “Harta apa yang paling engkau sukai?” Jawab orang buta, “Kambing.” Lalu diberinya orang itu kambing serta anaknya. Maka berkembang biaklah ternak-ternak pemberian malaikat itu. Unta menjadi satu lembah penuh, sapi menjadi satu lembah penuh, dan kambing penuh satu lembah.
Beberapa waktu kemudian, malaikat mendatangi si penderita kusta, dengan rupa dan keadaan seperti dia dahulu. Kata malaikat itu, “Aku seorang miskin. Dan aku kehabisan perbekalan dalam perjalananku yang masih jauh.sekarang tidak ada yang dapat menyampaikanku ke tujuan melainkan hanya pertolongan Allah melalui pertolongan anda. Karena itu ku mohon kepada anda dengan nama Allah yang telah memberi anda warna dan kulit yang bagus serta ternak unta. Sudilah anda memberiku  sekedar perbekalan untuk sampai ke tujuanku.” Jawab orang itu, “Aku banyak tanggungan.” Kata malaikat, “ Aku seolah-olah masih ingat kepadamu. Bukankah engkau si penderita kusta yang dijijiki orang dahulu? Tadinya engkau miskin, lalu diberi Allah rezeki.” Jawab orang itu, “Harta ini kuwarisi dari nenek moyangku orang terhormat.” Kata Malaikat, “Jika engkau dusta, maka Allah mengembalikanmu kepada keaadaanmu semula.”
 Kemudian didatanginya pula orang botak dengan rupa sepertinya dahulu seraya berkata kepadanya seperti yang dikatakan malaikat kepada penderita kusta. Orang itu menolak permintaan malaikat seperti halnya penderita kusta. Kata Malaikat, “ Jika engkau dusta Allah mengembalikamu kepada keadaanm semula.” Kemudian didatanginya pula orang buta dengan rupa dan keadaan seperti orang itu dahulu. Kata malaikat,” Aku miskin dan aku ibnu sabil. Aku kehabisan perbekalan dalam perjalanan. Tidak ada yang dapat menolong menyampaikan ke tujuan, melainkan hanya Allah, kemudian anda. Maka kumohon kepada anda atas nama Allah yang telah mengembalikan penglihatan anda, semoga anda sudi memberikan seekor kambing supaya aku sampai ke tujuanku.”  Jawab orang buta, “Dahulu aku buta, kemudian Allah mengembalikan penglihatanku dan diberinya aku ternak ini.Ambillah seberapa engkau perlukan dan tinggalkan sisanya menurut kehendakmu. Demi Allah aku tidak keberatan sedikit juapun terhadap apa yang anda ambil karena Allah.” Jawab malaikat, “Tidak! Tahanlah harta anda. Sesungguh aku hanya menguju anda. Anda sungguh diridhoi Allah. Sedangkan kedua sahabat anda di murkai Allah.”  (Hadist Riwayat Muslim)
Sungguh benar apa yang dikisahkan diatas, manusia yang beri kenikmatan setelah kesulitan terkadang lupa akan apa yang telah dialami dahulu. Kenikmatan itu telah membuatnya lupa diri, sehingga lupa bersyukur. Selamatlah bagi orang yang mau bersyukur. Yaitu orang-orang yang selalu sadar akan kenikmatan yang telah diberikan Allah kepadanya. Dia mampu mensyukuri apa yang telah diterimanya, dengan rela memberikan sebagian rezeki untuk orang yang membutuhkannya.
Saudaraku.... inilah pelajaran penting yang harus kita perhatikan dalam mengarungi kehidupan di dunia dan nanti di akhirat. Semoga Allah Ta’ala memberikan kita berkah atas apa yang telah kita miliki serta mampu mensyukurinya.



DZIKIR YANG DIBACA KETIKA PERJALANAN JAUH





Safar (perjalanan jauh) merupakan suatu hal yang sukar serta memerlukan kesabaran yang tinggi. Namun di saat  semacam itu, Allah memberikan kita kesempatan untuk banyak berdo’a dan disaat situlah waktu mustajab, mudah dikabulkan do’a.
 Dalam sebuah hadits disebutkan,
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ
Tiga waktu diijabahi (dikabulkan) do’a yang tidak diragukan lagi yaitu: (1) do’a orang yang terzholimi, (2) do’a seorang musafir, (3) do’a orang tua pada anaknya.” (HR. Ahmad 12/479 no. 7510, At Tirmidzi 4/314 no. 1905, Ibnu Majah 2/1270 no. 3862. Syaikh Al Albani menghasankan hadits ini) 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mengatakan bahwa safar adalah bagian dari ‘adzab (siksaan). Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ
Safar adalah bagian dari ‘adzab (siksaan)”. (HR. Bukhari no. 1804 dan Muslim no. 1927)
Artinya safar atau perjalanan jauh itu sungguh akan mendapati kesulitan.  jika anda melakukan safar dari luar negeri kembali ke kampung halaman. Apalagi jika safar tersebut mesti transit di beberapa kota. Yang sebelumnya mungkin ditempuh dalam waktu 9 jam, karena mesti transit di kota lain, akhirnya perjalanan tersebut memakan waktu hampir 24 jam. Apalagi keadaan di kendaraan atau pesawat yang kurang menyenangkan karena kita tidak bisa tidur sebagaimana layaknya. Badan tidak bisa direbahkan ke kasur yang empuk. Sungguh amat menyulitkan.
Ketika kondisi sulit dalam perjalanan jauh, hati pun akhirnya pasrah. Saat hati begitu pasrah, itulah saat mudah diijabahinya do’a. Saat kepasrahan hati pada Rabb ‘azza wa jalla, itulah hakekat ‘ubudiyah (penghambaan),  dan menundukkan diri pada-Nya. Akhirnya seorang hamba pun mengikhlaskan diri beribadah pada-Nya. Jika kondisi seseorang demikian, maka doa yang ia panjatkan akan makin mudah diijabahi. Semakin lama seseorang bersafar, semakin dekat pula do’a itu dikabulkan.
Gunakanlah waktu ketika engkau bersafar untuk banyak memohon segala kemudahan dari Allah Ta’ala. Mintalah kemudahan dari-Nya atas urusan safarmu. Begitu pula mohonlah pada Allah agar dimudahkan dalam urusan dunia lainnya, begitu pula jangan lupakan yang utama doa agar diberi berbagai kemudahan dalam hisab di akhirat. Jangan lupa doakan atas kebaikan diri, dijauhkan dari kejelekan diri, begitu pula doakan kebaikan bagi istri, anak, orang tua, kerabat dan saudara muslim lainnya.
Dzikir saat safar yang bisa diamalkan agar safar jadi lebih berkah:
Jika sudah berada di atas kendaraan untuk melakukan perjalanan, hendaklah mengucapkan, “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar.” Setelah itu membaca,
سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِى سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ وَالأَهْلِ
Subhanalladzi sakh-khoro lanaa hadza wa maa kunna  lahu muqrinin. Wa inna ila robbina lamun-qolibuun. Allahumma innaa nas’aluka fii safarinaa hadza al birro wat taqwa wa minal ‘amali ma tardho. Allahumma hawwin ‘alainaa safaronaa hadza, wathwi ‘anna bu’dahu. Allahumma antash shoohibu fis safar, wal kholiifatu fil ahli. Allahumma inni a’udzubika min wa’tsaa-is safari wa ka-aabatil manzhori wa suu-il munqolabi fil maali wal ahli.” (Mahasuci Allah yang telah menundukkan untuk kami kendaraan ini, padahal kami sebelumnya tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya, dan sesungguhnya hanya kepada Rabb kami, kami akan kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan, taqwa dan amal yang Engkau ridhai dalam perjalanan kami ini. Ya Allah mudahkanlah perjalanan kami ini, dekatkanlah bagi kami jarak yang jauh. Ya Allah, Engkau adalah rekan dalam perjalanan dan pengganti di tengah keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesukaran perjalanan, tempat kembali yang menyedihkan, dan pemandangan yang buruk pada harta dan keluarga).
Jadikanlah perjalanan jauh kita menjadi alat untuk mendekatkan diri kepada Allah Taala, sehingga kita menjadi hamba yang bertaqwa.
Semoga Allah selalu memberi kemudahan dalam setiap safar kita. Semoga safar kita adalah safar yang penuh berkah.



PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

A. JUDUL PENELITIAN
UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN   MENYUSUN PENELITIAN TINDAKAN KELAS MELALUI LOKAKARYA INTENSIF TERSRUKTUR BAGI  GURU SMP NEGERI 2 PANYINGKIRAN


B. BIDANG KAJIAN
Bidang kajian yang akan diangkat pada penelitian tindakan sekolah ini adalah kemampuan guru menyusun Penelitian Tindakan Kelas  (PTK). Hal tersebut merupakan tuntutan profesionalitas seorang guru, selain sebagai tujuan menuju guru profesional yang dinyatakan dalam simbol angka kredit. Angka kredit adalah angka ynag diberikan berdasarkan atas prestasi yang telah dicapai oleh seorang guru. Dalam mengerjakan butir rincian kegiatan yang digunakan sebagai salah satu syarat untuk pengangkatan dan kenaikan pangkat dalam jabatan guru. Simbol angka tersebut mencerminkan penilaian kualitas propessional guru.
Khusus untuk kenaikan pangkat atau jabatan guru Pembina (IVa) keatas, disamping harus memenuhi jumlah angka kredit juga harus memenuhi angka kredit unsur pengembangan profesi. Kegiatan pengembangan profesi guru adalah penerapan keterampilan guru untuk
meningkatkan mutu belajar mengajar menuju guru yang profesional. Salah satu kegiatan tersebuat adalah melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

C. LATAR BELAKANG MASALAH

Keberhasilan suatu pendidikan tidak dapat dilepaskan dari peranan seorang guru karena guru adalah komponen yang sangat penting dalam sebuah sistem pendidikan. Kualitas kinerja seorang guru tidak hanya sebatas menguasai bahan pembelajaran dan menggunakan metode pembelajaran yang baik, lebih dari itu guru harus mengetahui kebutuhan peserta didik yang unik dan bervariasi. Guru memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada anak didiknya secara lengkap sesuai dengan yang mereka butuhkan. Semua fungsi guru tersebut tidak akan efektif apabila komponen dari sistem pendidikan tidak berjalan dengan baik, karena kelemahan dari salah satu komponen akan berpengaruh pada komponen yang lain yang pada akhirnya akan berpengaruh juga pada jalannya sistem itu sendiri. salah satu dari bagian komponen sekolah adalah guru.
Pendekatan pencapaian peningkatan kualitas guru dapat berhasil melalui metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR).
Guru dituntut untuk mampu menguasai kurikulum, menguasai materi, menguasai metode, dan tidak kalah pentingnya guru juga harus mampu mengelola kelas sedemikian rupa sehingga pembelajaran berlangsung secara aktif, inovatif dan menyenangkan. Namun demikian, menurut Erman Suherman (http : educare.e-fkipunla.net), umumnya guru masih mendominasi kelas, siswa pasif ( datang, duduk, nonton, berlatih, …., dan lupa). Guru memberikan konsep, sementara siswa menerima bahan jadi. Masih menurut Erman Suherman, ada dua hal yang menyebabkan siswa tidak menikmati (enjoy) untuk belajar, yaitu kebanyakkan siswa tidak siap terlebih dahulu dengan (minimal) membaca bahan yang akan dipelajari, siswa datang tanpa bekal pengetahuan seperti membawa wadah kosong. Lebih parah lagi, siswa tidak menyadari tujuan belajar yang sebenarnya, tidak mengetahui manfaat belajar bagi masa depannya nanti.
Berdasarkan pengamatan penulis di …., terdapat beberapa kendala pada pembelajaran
selama ini antara lain :
1.     Siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep.
2.     Siswa kurang aktif / siswa pasif dalam proses pembelajaran.
3.     Siswa belum terbiasa untuk bekerja sama dengan temannya dalam belajar.
4.     Guru kurang mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
5.     Hasil nilai ulangan / hasil belajar siswa pada pembelajaran rendah.
6.     KKM tidak tercapai.
7.     Pembelajaran tidak menyenangkan bagi siswa.
8.     Kurangnya minat siswa terhadap pembelajaran.
Sebagai pendidik, penulis melihat pembelajaran menjadi kurang efektif karena hanya cenderung mengedepankan aspek intelektual dan mengesampingkan aspek pembentukan karakter. Hal ini tentu suatu hambatan bagi guru. Namun penulis ingin mengubah hambatan tersebut menjadi sebuah kekuatan dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien sehingga nantinya akan mendapatkan hasil yang memuaskan.
Untuk menjawab hal itu, penulis mencoba memberi solusi kepada guru-guru untuk menyusun sebuah Penelitian Tindakan Kelas. Dengan menyusun PTK, membantu guru memecahkan permasalahan yang terjadi di kelas dan meningkatkan kegiatan guru dalam pengembangan profesionalnya.
D. RUMUSAN MASALAH
1. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut “Apakah dengan diklat PTK terstruktur dapat meningkatkan kemampuan penyusunan PTK bagi guru SMPN 2 Panyingkiran ? ”
2. Pertanyaan Penelitian
Secara operasional rumusan masalah di atas dapat dijabarkan menjadi beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1.     Apakah diklat terstruktur PTK dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun PTK?
2.     Apa saja Hambatan yang dihadapi guru dalam menyusun PTK ?
3.     Bagaimana respon guru terhadap pendidikan dan latihan PTK terstruktur tersebut?

E. CARA PEMECAHAN MASALAH
PTS ini dilaksanakan dengan pemberian pendidikan dan latihan PTK secara berstruktur bagi guru SMPN 2 Panyingkiran. pada bidang studi Matematika, IPA, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia.
F. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
1. Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan, maka penelitian ini bertujuan untuk :
1.     Untuk mengetahui apakah diklat PTK terstuktur cukup efektif dalam meningkatkan kemampuan menyusun PTK bagi guru .
2.     Untuk mengetahui kendala-kendala apa saja yang dihadapi guru dalam menyusun PTK.
3.     Untuk mengetahui hasil dari diklat PTK terstruktur terhadap peningkatan kemampuan guru dalam menyusun PTK.
2. Manfaat Penelitian Penelitian tindakan sekolah ini, dilakukan dengan harapan memberikan manfaat bagi guru, sekolah, maupun siswa.
a. Manfaat bagi guru :
1.     Memperoleh pengalaman belajar yang lebih menarik.
2.     Meningkatkan kemampuan guru dalam memecahkan masalah yang ada dalam kelas.
3.     Meningkatkan penguasaan konsep.
4.     Menumbuhkan motivasi dalam menyusun PTK pada guru.
b. Manfaat bagi siswa:
1.     Memperoleh pengalaman belajar yang lebih menarik.
2.     Meningkatkan aktivitas siswa di dalam belajar.
3.     Meningkatkan penguasaan materi pembelajaran.
4.     Menumbuhkan keberanian mengemukakan pendapat dalam kelompok/ membiasakan bekerja sama dengan teman
c. Manfaat bagi sekolah :
1.     Meningkatkan prestasi sekolah dalam bidang akademis.
2.     Meningkatkan kinerja sekolah melalui peningkatan profesionalisme guru.
G. HIPOTESIS TINDAKAN
Hipotesis dalam penelitian tindakan ini adalah :
”Dengan menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan latihan PTK terstruktur dapat meningkatkan kemampuan menyusun PTK bagi Guru SMPN 2 Panyingkiran”
H. KAJIAN TEORI
Pada bagian ini, penulis bermaksud mengemukakan beberapa hal yang berhubungan dengan teori dan pengertian untuk dijadikan pedoman dalam penyusunan PTS ini, sebagai gambaran yang tentu ada kaitannya dengan materi pembahasan. Isinya berupa teori-teori yang diambil dari berbagai sumber.
PTK atau Penelitian Tindakan Kelas adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri (dilakukan dalam pembejaran biasa bukan kelas khusus). Ada beberapa ahli yang mencoba mendefinisikan penelitian tindakan kelas (PTK), diantaranya, David Hopkins (1993), menurutnya PTK adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh guru atau kelompok guru untuk menguji anggapan-anggapan dari suatu teori pendidikan dalam praktek, atau sebagai arti dari Evakuasi dan melaksanakan seluruh prioritas program sekolah. Sementara itu, menurut Russeffendi (1999) penelitian kelas merupakan suatu tindakan yang terarah, terencana, cermat, dan penuh perhatian yang dilakukan oleh praktisi pendidikan (guru) terhadap permasalahan yang ada dalam kelas yang bertujuan untuk memperbaiki pendidikan seperti metode mengajar, kurikulum, dan sebagainya.
Nelson Siregar menyebutkan bahwa penelitian tindakan kelas adalah suatu upaya untuk menjelaskan berbagai aspek dari hubungan antarketergantungan materi-subjek, pembelajar, dan pengajar sehubungan dengan isu totalitasdan logika internal dari tugas social mengkonstruksi pengetahuan dari PBM.
PTK dilakukan dengan jalan merancang, melaksanakan dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif. Tujuannya adalh untuk memperbaiki kinerja guru yang bersangkutansupaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Focus PTK adalah pada siswa atau pada proses belajar mengajar yang terjadi di kelas. Hasil dari PTK ini dapat ditulis sebagai Karya Tulis Ilmiah. Dalam penelitian ini, guru berperan sebagai pengajar sekaligus pengumpul data.
PTK adalah kajian tentang situasi social dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan didalamnya (Elliot, 1982). Seluruh proses, telaah, diagnosis, perencaan, pelaksanaan, pemantauan dan pengaruhnya menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dari perkembangan profesional.
Program pengembangan profesi guru salah satunya dengan mengadakan kegiatan pendidikan dan pelatihan penyusunan PTK bagi guru, dengan harapan memberikan pengalaman dalam penerapan keterampilan guru untuk meningkatkan mutu belajar mengajar, atau menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi pendidikan.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut diperlukan kegiatan bimbingan terstruktur mengenai teknis penyusunan PTK bagi guru SMP Negeri 2 Panyingkiran, seiring dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam peningkatan kualitas profesionalitas guru serta tuntutan system penilaian kinerja guru yang  telah ditetapkan berdasarkan pada Peraturan pemerintah nomor 3 tahun 1980, KEP MENPAN No 26 tahun 1989, dan diubah dengan KEP MENPAN No. 84 Tahun 1993, dan dijabarkan dalam SKB Mendikbud dan BKN No. 433/P/1993 DAN No.25 Tahun 1993, serta JUknis Mendikbud No. 025/O/1995 juga dikuatkan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi bagi guru dalam Jabatan. Adapun butir-butir sebagai bidang dan unsure kegiatan yang termasuk kepada penilaian kredit guru adalah membuat karya tulis ilmiah, yang salah satunya berwujud penilaian tindakan kelas (PTK).

A. Pengertian Pendidikan dan Pelatihan
Peningkatan kemampuan guru dalam menyusun PTK dapat dilakukan dengan melalui pembinaan kepala sekaolah, melalui kegiatan lokakarya, melalui workshop, melalui Focus Group Discussion (FGD), melalui kerja kelompok, melalui MGMP, termasuk diantaranya melalui lokakarya PTK intensif terstruktur.
B. Manfaat yang diharapkan dari Lokakarya PTK intensif terstruktur ini adalah:
1. Meningkatkan kemampuan guru dalam pengembangan dan penyusunan PTK.
2. Menyatukan pengetahuan mengenai teknis penyusunan PTK.
C. Tahapan Pelaksanaan kegiatan
1.  Kegiatan dilaksanakan di sekolah. Dengan mengundang Nara sumber yang berkompeten pada penyusunan PTK.
2. Penyusunan daftar peserta nara sumber dan struktur program kegiatan.
D. Langkah-langkah Pelaksanaan kegiatan Lokakarya
1. Bimbingan teknis penyusunan PTK
2 . Bimbingan perencanaan (planning) PTK
3. Bimbingan Pelaksanaan (acting) PTK.
4. Bimbingan Pengamatan (observing) PTK
5. Bimbingan refleksi (reflecting) PTK

E. Model Pelaksanaan
1. Pemberian Bimbingan teknis melalui penjelasan teori penyusunan PTK
2. Pemodelan dan diskusi.
3. Praktek penyusunan PTK.
4. Pemberian Tugas Terstruktur tahapan penyusunan PTK.


I. METODOLOGI PENELITIAN
I.                   subjek dalam penelitian ini adalah guru SMP NEGERI 2 PANYINGKIRAN. berjumlah 27 orang dengan kemampuan menyusun PTK yang masih heterogen.
1.     Faktor hasil kegiatan berupa hasil PTK yang telah dibuat.
2.     Faktor guru, mengamati aktivitas guru-guru bagaimana guru membuat skenario pembelajaran dan menentukan topik yang sulit bagi anak tetapi akan menarik pada saat disajikan di kelas
3.     Faktor siswa, bagaimana respon siswa pada saat melaksanakan pembelajaran.   
II. Prosedur Penelitian
Penelitian ini tergolong Penelitian Tindakan Sekolah, Dengan empat langkah pokok yaitu : Perencanaan tindakan, Pelaksanaan tindakan, Pengamatan (observasi), dan Refleksi, dengan melibatkan 27orang guru SMPN 2 Panyingkiran.n dua tahapan secara berkelanjutan selama 7 bulan. Indikator kinerja yang ditetapkan adalah peningkatan mutu pembelajaran dilihat dari hasil evaluasi, respon siswa terhadap pembelajaran dan keaktifan guru dalam kelompok MGMP. Aspek yang diukur dalam observasi adalah antusiasme guru, interaksi guru dengan kepala sekolah, interaksi dengan guru dalam MGMP, kerja sama kelompok, aktivitas dalam diskusi kelompok.
1. Perencanaan Tindakan
          a. Menyusun rencana kegiatan lokakarya.
          b. Menyusun review PTK
          c. Pemberian latihan berupa pemodelan dan diskusi.
          d. Pelatihan tahapan penyusunan PTK
           e. Evaluasi pelaksanaan bimbingan teknis PTK

2. Pelaksanan Tindakan
Menerapkan pelaksanan tindakan sesuai dengan rencana-rencana tindakan:
1.     Setiap peserta menerima bimbingan teori penyusunan PTK yang di tuliskan dalam jurnal belajar .                                                                                                                
2.     Guru diberi tugas untuk mencari contoh studi kasus sebagai dasar perencanaan penyususnan PTK.
3.     Guru diminta untuk menpresentasikan tugas-tugas yang diberikan dan ditanggapi oleh peserta lainnya.
4.     Guru melaksanakan peer teaching sebagai pengambilan data .
3. Pengamatan (observasi)
1.     Observer melakukan pengamatan sesuai rencana dengan menggunakan lembar observasi
2.     Menilai tindakan dengan menggunakan format evaluasi.
3.     Pada tahap ini seorang guru melakukan implementasi rencana yang telah disusun, pakar dan guru lain melakukan observasi dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan. Selain itu dilakukan pemotretan yang meng-close up kejadian-kejadian khusus selama pelaksanaan lokakarya penyusunan PTK.
4. Refleksi
1.     Pertemuan refleksi segera dilakukan secepatnya setelah kegiatan pelaksanaan pembelajaran, untuk memperoleh masukan dari guru observer, dan akhirnya komentar dari dosen atau pakar luar tentang keseluruhan proses serta saran sebagai peningkatan kemampuan penyusunan PTK.  
2.     Mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan dan mendiskusikan tindakan bersama dengan pengamat/observer.
3.     Kesan penyaji materi bimbingan PTK.
4.     Tanggapan-tanggapan observer yang difokuskan  pada bimbingan praktek penyusunan PTK
5.     Kesimpulan dan saran untuk perbaikan pada tahap berikutnya.
Penelitian tindakan sekolah ini berhasil apabila :
1.     Peningkatan kemampuan peserta lokakarya dalam penyusunan PTK.
2.     Motivasi Guru sebagai peserta dalam menyusun PTK dapat meningkat.
3.     peserta dapat merasakan adanya permasalahan dalam kegiatan belajar mengajar yang sering dilakukan.
4.     Peserta dapat memiliki kemampuan dalam menganalisis masalah.
5.     Peserta bimbingan dapat merumuskan masalah masalah yang mereka alami dalam keseharian mengajar.
6.     Peserta dapat membuat laporan PTK sesuai dengan standar yng telah disepakati.

III. Data dan pengambilan Data
No Sumber Data Jenis Data Teknik Pengumpulan Instrumen
1.     Laporan PTK yang dibuat oleh guru atau peserta bimbingan yang telah memenuhi standar.
2.     Motivasi guru dalam membuat laporan PTK meningkat dengan indicator kemampuan melihat permasalahan yang muncul dalam proses KBM yang ditunjukkan dalam catatan-catatan permasalahan dalam proses KBM.
3.     Respon dari siswa setelah guru melakukan perbaikan-perbaikan proses KBM yang mereka lakukan dengan dibuktikan dari hasil angket yang dilakukan pada siswa.






J. INDIKATOR KEBERHASILAN
Penelitian tindakan sekolah ini berhasil apabila :
1.     Peningkatan kemampuan peserta dalam penyususnan PTK
2.     Motivasi guru sebagai peserta dalam menyusun PTK dapat meningkat.
3.     peserta dapat merasakan adanya permasalahan dalam kegiatan belajar mengajar yang sering dilakukan.
4.     Peserta dapat memiliki kemampuan dalam menganalisis masalah.
5.     Peserta bimbingan dapat merumuskan masalah masalah yang mereka alami dalam keseharian mengajar.
6.     Peserta dapat membuat laporan PTK sesuai dengan standar yng telah disepakati.





L. JADWAL KEGIATAN

Adapun jadwal kegiatan yang dilaksanakan dalam kegiatan Penyusunan Laporan Tindakan Sekolah ini adalah sebagai berikut:

No
Jenis Kegiatan
Bulan
Minggu
1.
Penyusunan rencana kegiatan
Januari 2011
kedua
2.
Pelaksanaan Kegiatan
Januari 2011
Ketiga
3.
Analisa hasil kegiatan siklus I
Januari 2011
Keempat
4.
Pelaksanaan Kegiatan
Februari 2011
Pertama
5.
Analisa hasil kegiatan siklus II
Februari 2011
Kedua
6.
Analisa Hasil Penelitian
Februari 2011
ketiga
7.
Penyusunan Laporan PTS
Maret 2011
pertama





M. DAFTAR PUSTAKA

Arikunto,Suharsimi, dkk.2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara.
Muharjito. (2005). Prinsip-prinsip PTK. Jakarta: Diklat Teknis Penelitian Tindakan Kelas Guru Pendidikan Luar Biasa. Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Pembinaan SLB.
------------, Bahan Belajar Mandiri Penilaian Tindakan Sekolah. Jakarta: Direktorat Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasioanal.
www. Infoskripsi.com
www.lib.uchicago. Edu.