Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin
Rawiyah
Berteman karena agama adalah sebuah anjuran, dan mencari
teman yang baik adalah sebuah perintah. Sementara berteman dengan orang yang
tidak baik justru akan membahayakan bagi diri dan agamanya. Allah Subhanahu wa
Ta’ala telah menegaskan dalam masalah ini dalam firman-Nya:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ
بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهُ وَلاَ تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ
تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلاَ تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ
عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
“Dan
bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi
dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu
berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah
kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat Kami, serta
menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi:
28)
فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ
يُرِدْ إِلاَّ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. ذَلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّ
رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ
اهْتَدَى
“Maka
berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan
tidak menginginkan kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan
mereka. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat
dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat
petunjuk.” (An-Najm: 29-30)
Untuk lebih jelasnya serta agar bisa mendudukkan
tuntunan agama dalam bermualah bersama mereka, kita klasifikasikan kaum muslimin
menjadi beberapa golongan. Ini (bukan kondisi yang memang harus diterima apa
adanya, namun) semata-mata mendekatkan kepada pemahaman.
Pertama: Golongan orang-orang yang benar-benar
beriman
Orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
dengan sebenar-benarnya, memiliki kedudukan yang tinggi di sisi-Nya dan
mendapatkan nama yang harum. Sungguh betapa banyak ayat-ayat Al-Qur`an yang
menjelaskan pujian Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap mereka dan mengangkat
kedudukan mereka yang tinggi.
إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah
sebaik-baik makhluk.” (Al-Bayyinah: 7)
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ
أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang- orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadalah: 11)
وَالْعَصْرِ. إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلاَّ
الَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا
بِالصَّبْرِ
“Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang- orang yang
beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya menaati
kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Al-’Ashr:
1-3)
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ. الَّذِيْنَ هُمْ فِي
صَلاَتِهِمْ خَاشِعُوْنَ. وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ.
وَالَّذِيْنَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُوْنَ. وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ
حَافِظُوْنَ. إِلاَّ عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ
فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَ. فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ
الْعَادُوْنَ
“Sesungguhnya
beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam
shalatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan)
yang tiada berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dan orang-orang yang
menjaga kemaluannya kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka
miliki. Maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa
mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.”
(Al-Mu`minun: 1-6)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan
kedudukan mereka yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentunya bergaul
bersama mereka dengan pergaulan yang penuh kasih sayang dan cinta, menganggap
mereka sebagai saudara dalam agama dan aqidah sekalipun berbeda nasab, berjauhan
negeri, dan berbeda zaman. Hal ini dipertegas olah Allah Subhanahu wa Ta’ala
dalam firman-Nya:
وَالَّذِيْنَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ
وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ
رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ
“Dan
orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa:
‘Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih
dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami
terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha
Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (Al-Hasyr: 10)
مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ
عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
“Muhammad itu
adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang di antara mereka.” (Al-Fath:
29)
Menganggap mereka adalah saudara dan berusaha
mendamaikan bila terjadi perselisihan di antara mereka.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ
أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
“Orang-orang
beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah
hubungan) antara kedua saudara kalian itu dan takutlah terhadap Allah, supaya
kalian mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 10)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ
بَعْضًا
“Perumpamaan
persaudaraan orang-orang yang beriman bagaikan sebuah bangunan yang sebagiannya
menguatkan yang lain.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim no. 2585 dari sahabat
Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu 'anhu)
مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ
كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ
الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ
“Perumpamaan
orang-orang yang beriman dalam cinta dan berkasih sayang, mereka bagaikan satu
jasad yang bila salah satu anggota badannya sakit, seluruh jasadnya merasakan
sakit panas dan berjaga.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim no. 2586 dari
sahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu 'anhuma)
Juga sebagai bentuk penerapan pergaulan kita bersama
mereka adalah berloyalitas kepada mereka secara sempurna:
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ وَالَّذِيْنَ
آمَنُوا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكَاةَ وَهُمْ
رَاكِعُوْنَ
“Sesungguhnya
penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang
mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan
barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi
penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.”
(Al-Ma`idah: 55)
Kedua: Golongan Orang-orang yang
Bermaksiat
Teman sangat memengaruhi baik tidaknya agama seseorang
dan berpengaruh pula terhadap kebahagiaan dunia dan akhirat. Kisah kematian Abu
Thalib paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam riwayat
Al-Bukhari dan Muslim tentu bukanlah rahasia lagi. Diceritakan bahwa dia memilih
tetap bersama agama nenek moyangnya, padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam di samping ranjang kematiannya mentalqin kalimat Laa ilaha illallah. Ini
dikarenakan mengultuskan ajaran nenek moyang dan salah dalam memilih teman
bergaul. (Lihat Kitab At-Tauhid karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab
rahimahullahu)
Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
memperingatkan agar kita berhati-hati dalam mencari teman.
الْمَرْءُ عَلىَ دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ
أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang
sesuai dengan agama (atau adat kebiasaan) temannya, maka lihatlah teman
bergaulnya.” (HR. Abu Dawud no. 4833 dan At-Tirmidzi no. 2379 dari sahabat Abu
Hurairah radhiyallahu 'anhu)
مَثَلُ الْجَلِيْسِ الصَّالِحِ وَالسُّوْءِ كَحَامِلِ
الْمِسْكِ وَناَفِخِ الْكِيْرِ
“Perumpamaan
teman yang baik dan jelek adalah seperti berteman dengan penjual minyak wangi
dan tukang pandai besi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim no. 2628 dari sahabat Abu
Musa Al-Asy’ari radhiyallahu 'anhu)
Ada dua atau tiga kemungkinan bagimu jika engkau
berteman dengan tukang minyak wangi. (Pertama) engkau membeli wewangian darinya
sehingga engkau menjadi wangi, (kedua) dia memberimu, atau (ketiga) engkau
mencium bau yang harum. Sebaliknya jika engkau berteman dengan tukang pandai
besi hanya ada dua kemungkinan: dia akan membakar pakaianmu dengan percikan api
tersebut, atau engkau mencium bau yang tak sedap.
Orang yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
berada dalam murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentunya jangan dijadikan sebagai
teman hidup kecuali dalam batasan agama, seperti mendakwahi mereka dan mengajak
untuk meninggalkan kebiasaan mereka yang jelek. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
ادْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ
وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ
هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ
بِالْمُهْتَدِيْنَ
“Serulah
(manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu Dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl:
125)
Ketiga: Golongan Orang-orang
Awam
Orang awam membutuhkan bantuan orang-orang alim untuk
mengajari mereka bimbingan agama. Bukan untuk dihakimi dan divonis bila
melakukan kesalahan di atas kejahilan/keawaman mereka. Namun untuk diingatkan
dan dibimbing ke jalan yang benar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ. قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: لِلهِ،
وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ
وَعَامَّتِهِمْ
“Agama itu
adalah nasihat.” Mereka berkata: “Bagi siapa, ya Rasulullah?” Beliau bersabda:
“Bagi Allah, bagi kitab-kitab-Nya, bagi rasul-rasul-Nya, bagi pemimpin kaum
muslimin dan orang umum mereka.” (HR. Muslim no. 55 dari sahabat Tamim bin Aus
Ad-Dari radhiyallahu 'anhu)
Bila kita salah meletakkan sikap terhadap mereka,
dikhawatirkan mereka menjauh dari kebenaran bahkan fobi terhadapnya. Bila hal
itu terjadi karena diri kita, akan menyebabkan kita terjatuh di dalam dosa,
sebagaimana telah diperingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu dan Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu
'anhu: “Berilah mereka kabar gembira dan jangan engkau menyebabkan mereka lari
(dari kebenaran).”
Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri meletakkan hukum
khusus bagi mereka, sebagaimana di dalam firman-Nya:
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتَّى نَبْعَثَ
رَسُوْلاً
“Dan kami
tidak akan mengadzab sebelum kami mengutus seorang rasul.” (Al-Isra`:
15)
Asy-Syaukani rahimahullahu di dalam tafsir beliau
berkata: “Allah tidak akan mengadzab hamba-Nya kecuali setelah tegak hujjah
dengan diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitab kepada mereka. Allah
Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa Dia tidak membiarkan mereka hidup sia-sia
dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menyiksa mereka melainkan setelah tegak
hujjah atas mereka. Dan pendapat yang rajih adalah bahwa Allah Subhanahu wa
Ta’ala tidak mengadzab mereka di dunia ataupun di akhirat, kecuali setelah
diutusnya para rasul kepada mereka. Demikianlah yang dikatakan oleh sebagian
ahli ilmu.” (Fathul Qadir, hal. 956)
Namun orang-orang awam tersebut akan keluar dari hukum
khusus di atas apabila keawamannya tersebut disebabkan tiga perkara:
Pertama:
Disebabkan istikbar (menyombongkan diri) dengan tidak mau mempelajari kebenaran
atau sombong di hadapan kebenaran, maka kejahilan yang disebabkan hal ini tidak
akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bila dia terjatuh dalam kemaksiatan
karenanya.
Kedua: Disebabkan tafrith (mengentengkan dan meremehkan)
pengajaran ilmu agama yang benar sehingga tidak mau mempelajarinya terlebih
mengamalkannya.
Ketiga: Disebabkan i’radh (berpaling) dari mempelajari ilmu
agama sehingga bila dia terjatuh dalam penyelisihan karena kejahilannya, maka
tidak akan dimaafkan. (lihat faidah dalam syarah Kasyfus
Subhat)
Bergaul bersama mereka dalam tiga sebab kejahilan ini
harus ekstra hati-hati dan harus menjauhkan diri dari mereka, karena mereka
tidak akan mendatangkan kebaikan sedikitpun bagi agama. Dalam bergaul bersama
orang yang benar-benar awam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi
uswatun hasanah dalam hal ini. Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu
mengisahkan:
بَالَ أَعْرَابِيٌّ فِي الْمَسْجِدِ فَقَامَ النَّاسُ
إِلَيْهِ لِيَقَعُوا فِيْهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ: دَعُوْهُ وَأَهْرِقُوا عَلَى
بَوْلِهِ سَجْلاً مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوْبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ
مُيَسِّرِيْنَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مَعَسِّرِيْنَ
Dari Abu
Hurairah berkata: Seorang Badui kencing di masjid, lalu orang-orang bangkit
untuk memukulnya (dalam riwayat yang lain mereka menghardiknya). Rasulullah
berkata: “Biarkan dia, tuangkan air di atas kencingnya atau satu ember dari air
karena sesungguhnya kalian diutus sebagai pemberi kemudahan bukan memberikan
kesulitan.” (HR. Al-Bukhari, Kitabul Adab)
Keempat: Golongan Ahli Bid’ah dan orang yang terjatuh
padanya
Kita memaklumi bahwa kemaksiatan yang paling besar
setelah dosa kufur dan syirik adalah kebid’ahan di dalam agama. Sebuah
kemaksiatan yang paling dicintai dan disukai oleh iblis. Hal ini ditegaskan oleh
Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu: “Sesungguhnya kebid’ahan amat sangat
disenangi oleh iblis daripada perbuatan maksiat. Karena (orang yang melakukan)
perbuatan bid’ah tidak akan (kecil kemungkinan) bertaubat darinya. Sedangkan
kemaksiatan akan (memungkinkan pelakunya) bertaubat darinya.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu menjelaskan,
makna pernyataan bahwa kebid’ahan tidak akan diberi taubat, karena seorang
mubtadi’ (ahli bid’ah) menjadikan sesuatu yang tidak pernah disyariatkan oleh
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya sebagai agama. Dan kebid’ahan itu telah
dihiasi dengan kejelekan amalannya sehingga nampaknya baik. Tentunya dia tidak
akan bertaubat selama dia menganggap perbuatannya adalah baik, karena awal dari
pintu bertaubat adalah mengetahui tentang kejelekan tersebut.” (At-Tuhfatul
‘Iraqiyyah, hal. 7)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
memperingatkan dari perbuatan yang disukai iblis ini sebelum terjadinya, dalam
banyak sabdanya. Di antaranya:
وَإِيَّاكُمْ وُمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ
مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Dan
berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru dalam agama, dan setiap perkara
baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap kebid’ahan itu sesat.” (HR. Abu
Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2678 dan selain beliau berdua dari sahabat
‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu. Dan disebutkan oleh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbatul hajah dalam riwayat Al-Imam Muslim
dari sahabat Jabir radhiyallahu 'anhu)
Tentang pelakunya, beliau telah memperingatkan dengan
tegas dan keras sebagaimana ucapan beliau tentang Khawarij. Dalam sebuah
kesempatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Dari keturunan
orang ini muncul suatu kaum yang mereka membaca Al-Qur`an namun tidak sampai
tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah
dari sasarannya. Mereka membunuh orang-orang Islam dan membiarkan para penyembah
berhala. Jika saya menjumpai mereka, akan saya perangi mereka sebagaimana Allah
memerangi kaum ‘Ad.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri
radhiyallahu 'anhu)
Dalam kesempatan yang lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda: “Di mana saja kalian menjumpai mereka maka bunuhlah mereka,
karena membunuh mereka mendapatkan pahala bagi pembunuhnya pada hari kiamat.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat ‘Ali radhiyallahu
'anhu)
Juga sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barangsiapa membunuh mereka maka dialah orang yang paling utama di sisi Allah.”
(HR. Abu Dawud no. 4765 dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu dan
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)
Dalam kesempatan yang lain beliau bersabda:
“Berbahagialah orang yang membunuh mereka dan terbunuh oleh mereka.” (HR. Abu
Dawud no. 4765 dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu
'anhu)
Dalam kesempatan yang lain beliau bersabda: “(Mereka
adalah) sejelek-jelek orang yang terbunuh di bawah kolong langit.” (HR. Ahmad
no. 19172 dari sahabat Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu
'anhu)
Tidak termasuk seorang yang benar imannya jika dia
menganggap banyak perkara syariat yang belum disampaikan oleh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak termasuk berjalan di atas jalan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika kita bergandengan tangan dengan ahli bid’ah
dan duduk bersamanya dalam satu majelis.
Para ulama salaf telah mengajarkan kita sikap bergaul
yang baik dengan ahli bid’ah.
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata: “Barangsiapa
mendengar ucapan ahli bid’ah maka dia telah keluar dari pemeliharaan Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan dia dilimpahkan kepada kebid’ahan
tersebut.”
Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullahu berkata: “Barangsiapa
duduk bersama ahli bid’ah maka dia tidak akan diberikan hikmah.” Beliau juga
berkata: “Jangan kalian duduk bersama ahli bid’ah karena aku takut laknat
menimpamu.“ Beliau berkata pula: “Barangsiapa mencintai ahli bid’ah maka telah
batal amalannya dan telah keluar cahaya Islam dari dalam hatinya.” Beliau
berkata juga: “Barangsiapa yang duduk bersama ahli bid’ah di sebuah jalan (dan
kamu lewat di majelis tersebut) maka hendaklah kamu mengambil jalan yang
lain.”
Beliau juga berkata: “Barangsiapa memuliakan ahli bid’ah
berarti dia telah membantunya untuk menghancurkan Islam. Barangsiapa memberikan
senyumnya kepada ahli bid’ah maka sungguh dia telah menyepelekan apa yang
diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barangsiapa yang
menikahkan anaknya bersama ahli bid’ah maka sungguh dia telah memutuskan
hubungan kekeluargaan. Dan barangsiapa yang mengikuti jenazah ahli bid’ah maka
dia terus berada dalam murka Allah Subhanahu wa Ta’ala sampai dia
kembali.”
Bahkan beliau berkata: “Aku bisa saja makan bersama
seorang Yahudi dan Nasrani, namun aku tidak akan makan bersama ahli bid’ah. Aku
senang bila ada benteng dari besi antara diriku dengan ahli bida’h.” (Lihat
Syarhus Sunnah, Al-Imam Al-Barbahari rahimahullahu hal.
137-139)
Adapun mereka yang terjatuh dalam kebid’ahan dalam
keadaan tidak mengetahui itu adalah sebuah kebid’ahan dalam agama, kita berharap
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan
hidayah kepada mereka dan memaafkan kesalahan mereka. Sikap kita kepada mereka
adalah sebagaimana sikap kita terhadap orang yang awam, yang butuh diselamatkan
dan diajak kepada jalan yang benar.
Terkadang seseorang tergiur dengan sebuah penampilan
sunnah seperti pakaian sunnah, jenggot sunnah, ‘imamah sunnah, dan sebagainya.
Namun apalah artinya jika engkau menampilkan sunnah sementara engkau tidak
berjalan di atas jalan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Engkau
tidak beraqidah di atas aqidah beliau, engkau tidak beribadah sesuai dengan
tuntunan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sebagainya. Butuh alat
pembanding dan penilai, itulah kebenaran. Oleh karena itu “kenalilah kebenaran,
engkau akan mengenal pemeluk kebenaran.”
Wallahu a‘lam bish shawab.
Sumber Majalah Asy Syariah