Kisah Dzulqarnain telah diterangkan Al-Qur`an secara
panjang lebar dalam Surat Al-Kahfi ayat 83-99. Berikut adalah penjelasannya.
“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah:
‘Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.’ Sesungguhnya Kami telah
memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan
kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka diapun menempuh suatu
jalan. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia
melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia
mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: ‘Hai Dzulqarnain, kamu boleh
menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.’ Berkata Dzulqarnain:
‘Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengadzabnya, kemudian dia
dikembalikan kepada Rabbnya, lalu Dia mengadzabnya dengan adzab yang tidak
ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya
pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya
(perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami’.” (Al-Kahfi: 83-88)
Dahulu, ahli kitab atau kaum musyrikin bertanya kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam tentang kisah Dzulqarnain. Allah Subhanahu wa Ta’ala
memerintahkan beliau untuk mengatakan:
“Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.”
Cerita yang mengandung berita yang memberi kecukupan dan pembicaraan yang
mengagumkan. Maksudnya, aku akan bacakan kepada kalian tentang Dzulqarnain,
yang bisa menjadi ibrah (pelajaran). Adapun hal-hal lain yang tidak menjadi
pelajaran, beliau tidak membacakannya kepada mereka.
“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi.”
Maksudnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kekuasaan dan memantapkan
pengaruhnya di segenap penjuru bumi, dan ketundukan mereka kepadanya.
“Dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu,
maka diapun menempuh suatu jalan.”
Maksudnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan sebab-sebab (sarana) yang
menyampaikan kepada kedudukan yang dicapainya itu. Sarana-sarana itu
membantunya untuk menaklukkan berbagai negeri, memudahkannya mencapai
tempat-tempat yang paling jauh yang dihuni manusia. Dia menggunakan
sarana-sarana yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan itu, sesuai dengan
fungsinya. Karena tidak setiap orang yang mempunyai sebuah sarana, kemudian
dia (mau) menjalaninya. Dan tidak setiap orang mempunyai kemampuan untuk
menjalani sebab itu. Sehingga, ketika terkumpul antara kemampuan untuk
menjalani sebab yang hakiki dan (kemauan) menjalaninya, tercapailah tujuan.
Dan bila keduanya (kemampuan dan kemauan) atau salah satunya tidak ada, maka
tujuan tidak akan tercapai.
Sarana-sarana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada Dzulqarnain tidak
diberitakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun Rasul-Nya Shallallahu
‘alaihi wa sallam kepada kita. Tidak pula berita-berita itu dinukilkan para
ahli sejarah kepada kita dengan penukilan yang meyakinkan. Maka, tidak ada
yang pantas bagi kita kecuali diam serta tidak melihat pada apa yang
disebutkan para penukil kisah Israiliyat dan yang semacamnya. Hanya saja kita
tahu secara global bahwa sebab-sebab tersebut kuat dan banyak, baik sebab
internal maupun eksternal. Dengan sebab-sebab itu, dia mempunyai pasukan yang
besar, banyak personil dan perlengkapannya, serta diatur dengan baik. Dengan
pasukan tersebut, dia mampu mengalahkan musuh-musuh, memudahkannya untuk sampai
ke belahan timur, barat maupun segenap penjuru bumi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan sebab kepadanya yang mengantarkannya
sampai ke tempat terbenamnya matahari, hingga dia melihat matahari dengan
mata kepala seakan-akan matahari itu tenggelam di lautan yang hitam. Dan ini
biasa bagi orang yang hanya ada air (lautan) antara dia dan ufuk terbenamnya
matahari. Dia melihat bahwa matahari tenggelam ke dalam laut itu, meskipun
dia berada pada puncak ketinggian.
Di sana, yakni di tempat terbenamnya matahari tersebut, Dzulqarnain menemukan
sekelompok manusia.ا
“Kami berkata: ‘Hai Dulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat
kebaikan terhadap mereka.’”
Yakni, engkau bisa mengadzab mereka dengan pembunuhan, pukulan, atau menawan
mereka dan semacamnya. Atau engkau berbuat baik kepada mereka. Dzulqarnain
diberi dua pilihan, karena –yang nampak– kaum itu adalah orang kafir atau
fasik, atau mereka memiliki sebagian sifat-sifat tersebut. Karena bila mereka
adalah kaum yang beriman bukan orang fasik, tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala
tidak memberikan keringanan bagi Dzulqarnain untuk mengadzab mereka. Ini
menunjukkan bahwa Dzulqarnain memiliki as-siyasah asy-syar’iyyah yang
menjadikannya berhak dipuji dan disanjung, karena taufiq yang Allah Subhanahu
wa Ta’ala berikan kepadanya. Dia lalu berkata: “Aku akan menjadikan mereka
dua bagian:
“Adapun orang yang aniaya.” Yakni kafir.
“Maka kami kelak akan mengadzabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Rabbnya,
lalu Dia mengadzabnya dengan adzab yang tidak ada taranya.” Yakni, orang yang
aniaya akan mendapatkan dua hukuman, hukuman di dunia dan di akhirat.
“Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang
terbaik sebagai balasan.” Yakni sebagai balasannya, dia akan mendapatkan
surga kedudukan yang baik di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat.
“Dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari
perintah-perintah kami.”
Yakni, kami akan berbuat baik kepadanya, berlemah lembut dalam tutur kata,
dan kami permudah muamalah baginya. Ini menunjukkan bahwa Dzulqarnain
termasuk raja yang shalih, wali Allah Subhanahu wa Ta’ala yang adil lagi
berilmu, di mana dia menepati keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan
memperlakukan setiap orang sesuai dengan kedudukannya.
“Kemudian dia menempuh jalan (yang lain).
Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia
mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan
bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu,
demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya.
Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi).
Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di
hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.
Mereka berkata: ‘Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya`juj dan Ma`juj itu orang-orang
yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu
pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?’
Dzulqarnain berkata: ‘Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku
terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia
dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka,
berilah aku potongan-potongan besi.’ Hingga apabila besi itu telah sama rata
dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: ‘Tiuplah (api
itu).’ Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun
berkata: ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi
panas itu.’
Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya.
Dzulqarnain berkata: ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku, maka apabila
telah datang janji Rabbku Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji
Rabbku itu adalah benar’.” (Al-Kahfi: 89-98)
Maksudnya, Dzulqarnain mendapati matahari terbit di atas komunitas manusia yang
tidak memiliki pelindung dari sinar matahari. Bisa jadi karena mereka tidak
menyiapkan tempat tinggal, karena mereka masih liar, tidak beradab, dan
nomaden. Atau bisa juga karena matahari selalu berada di atas mereka, tidak
pernah tenggelam. Sebagaimana hal ini terjadi di wilayah Afrika Timur bagian
selatan. Dzulqarnain telah sampai kepada suatu tempat yang belum pernah
diketahui penduduk bumi, terlebih pernah mereka datangi (secara fisik) dengan
tubuh mereka. Namun demikian, ini semua terjadi dengan takdir Allah Subhanahu
wa Ta’ala atas Dzulqarnain dan pengetahuannya terhadap hal itu. Oleh karena
itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada
padanya.” (Al-Kahfi: 91)
Maksudnya, Kami mengetahui kebaikan dan sebab-sebab agung yang ada padanya,
dan ilmu Kami bersamanya, kemanapun ia menuju dan berjalan.
“Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah
sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan keduanya suatu
kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.” (Al-Kahfi: 92-93)
Para ahli tafsir berkata: Dzulqarnain pergi dari arah timur menuju ke utara.
Sampailah dia di antara dua dinding penghalang. Kedua dinding penghalang itu
adalah rantai pegunungan yang dikenal pada masa itu, yang menjadi penghalang
antara Ya`juj dan Ma`juj dengan manusia. Di hadapan kedua gunung itu, dia
menemukan suatu kaum yang hampir-hampir tidak bisa memahami pembicaraan,
karena asingnya bahasa mereka dan tidak cakapnya akal dan hati mereka. Dan
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi Dzulqarnain sebab-sebab ilmiah yang
dengannya bahasa kaum itu menjadi bisa dipahami dan dia memahamkan mereka.
Dia bisa berbicara kepada mereka dan mereka bisa berbicara kepadanya. Mereka
kemudian mengeluhkan kejahatan Ya`juj dan Ma`juj kepada Dzulqarnain. Mereka
merupakan dua umat yang besar dari keturunan Adam ‘alaihissalam.
Kaum itu berkata:
“Sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di
muka bumi.” (Al-Kahfi: 94)
yaitu dengan melakukan pembunuhan, perampokan, dan lain-lain.
“Maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu....” (Al-Kahfi:
94)
maksudnya upah.
“Supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” (Al-Kahfi: 94)
Hal ini menunjukkan ketidakmampuan mereka untuk membangun dinding penghalang,
dan mereka mengetahui kemampuan Dzulqarnain untuk membangunnya. Mereka pun
memberikan upah kepadanya untuk melakukannya. Mereka menyebutkan sebab yang
mendorong hal itu, yaitu perusakan Ya`juj dan Ma`juj di bumi. Dzulqarnain
bukanlah orang yang tamak, dia tidak memiliki keinginan terhadap harta dunia.
Namun dia juga tidak meninggalkan perbaikan keadaan rakyat. Bahkan tujuannya
adalah perbaikan. Sehingga dia memenuhi permintaan mereka karena kemaslahatan
yang terkandung di dalamnya. Dia tidak mengambil upah dari mereka. Dia
bersyukur kepada Rabbnya atas kekokohan dan kemampuannya. Dzulqarnain berkata
kepada mereka:
“Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku adalah lebih baik.” (Al-Kahfi:
95)
Maksudnya, lebih baik daripada apa yang kalian berikan kepadaku. Aku hanyalah
meminta kalian untuk membantuku dengan kekuatan tangan-tangan kalian.
“Agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.” (Al-Kahfi: 95)
Yakni sebagai penghalang agar mereka tidak melintasi kalian.
“Berilah aku potongan-potongan besi.” (Al-Kahfi: 96)
Merekapun memberinya.
“Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu.”
(Al-Kahfi: 96)
yaitu dua gunung yang antara keduanya dibangun penghalang.
“Berkatalah Dzulqarnain: ‘Tiuplah (api itu)’.” (Al-Kahfi: 96)
Maksudnya, nyalakanlah dengan nyala yang besar. Gunakanlah alat tiup agar
nyalanya membesar, sehingga tembaga itu meleleh. Tatkala tembaga itu meleleh,
yang hendak dia tuangkan di antara potongan-potongan besi,
“Berilah aku tembaga agar kutuangkan ke atas besi panas itu.” (Al-Kahfi: 96)
Maksudnya, tembaga yang mendidih. Aku tuangkan tembaga yang meleleh ke
atasnya. Maka dinding penghalang itu menjadi luar biasa kokoh. Terhalangilah
manusia yang berada di belakangnya dari kejahatan Ya`juj dan Ma`juj.
“Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula)
melubanginya.” (Al-Kahfi: 97)
Maksudnya, mereka tidak memiliki kemampuan dan kekuatan untuk mendakinya
karena tingginya penghalang itu. Tidak pula mereka bisa melubanginya karena
kekokohan dan kekuatannya. Setelah melakukan perbuatan baik dan pengaruh yang
mulia, Dzulqarnain menyandarkan nikmat itu kepada Pemiliknya. Dia berkata:
“Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku.” (Al-Kahfi: 98)
Maksudnya, merupakan karunia dan kebaikan-Nya terhadapku. Inilah keadaan para
khalifah yang shalih. Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan nikmat-nikmat
yang mulia kepada mereka, bertambahlah syukur, penetapan, dan pengakuan
mereka akan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana ucapan Sulaiman
‘alaihissalam ketika singgasana Ratu Saba` tiba di hadapannya dari jarak yang
sedemikian jauh:
“Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau
mengingkari (akan nikmat-Nya.” (An-Naml: 40)
Ini berbeda dengan orang yang congkak, sombong, dan merasa tinggi di muka
bumi. Nikmat-nikmat yang besar menjadikan mereka bertambah congkak dan
sombong. Sebagaimana ucapan Qarun ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya
perbendaharaan yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang
yang kuat. Dia berkata:
“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.”
(Al-Qashash: 78)
Ucapan Dzulqarnain:
“Maka apabila sudah datang janji Rabbku, Dia akan menjadikannya hancur luluh;
dan janji Rabbku itu adalah benar.” (Al-Kahfi: 98)
Maksudnya, waktu keluarnya Ya`juj dan Ma`juj.
“Dia akan menjadikannya....” (Al-Kahfi: 98)
Maksudnya, menjadikan dinding penghalang yang kuat dan kokoh itu ﭜﭝ (hancur luluh), dan runtuh. Ratalah dinding itu dengan tanah.
“Dan janji Rabbku itu adalah benar.” (Al-Kahfi: 98)
“Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang
lain.” (Al-Kahfi: 99)
Bisa jadi dhamir (kata ganti mereka) kembali kepada Ya`juj dan Ma`juj –ketika
mereka keluar kepada manusia– karena banyaknya jumlah mereka dan meliputi
seluruh permukaan bumi, sehingga mereka berbaur satu sama lain. Sebagaimana
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Hingga apabila dibukakan (dinding) Ya`juj dan Ma`juj, dan mereka turun
dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” (Al-Anbiya`: 96)
Bisa juga kata ganti tersebut kembali kepada seluruh makhluk pada hari
kiamat. Mereka berkumpul pada hari itu dalam keadaan banyak sehingga
bercampur-aduk antara satu dengan yang lain....”
(Diambil dari Taisir Al-Karimirrahman karya Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di
rahimahullah, hal. 486-487)
|
Rabu, 02 Mei 2012
Kisah Dzulqarnain dalam Surat Al-Kahfi
REBO WEKASAN
Oleh Abu ‘Abdillah
Kediri
Di antara anggapan dan keyakinan keliru yang terjadi di bulan Shafar adalah adanya sebuah hari yang diistilahkan dengan Rebo Wekasan. Dalam bahasa Jawa ‘Rebo’ artinya hari Rabu, dan ‘Wekasan’ artinya terakhir. Kemudian istilah ini dipakai untuk menamai hari Rabu terakhir pada bulan Shafar (diperkirakan pada bulan Shafar tahun ini (1431 H) bertepatan dengan tanggal 10 Februari 2010). Di sebagian daerah, hari ini juga dikenal dengan hari Rabu Pungkasan.
Apakah Rebo Wekasan itu?
Sebagian kaum muslimin meyakini bahwa setiap tahun akan turun 320.000 bala’, musibah, ataupun bencana (dalam referensi lain 360.000 malapetaka dan 20.000 bahaya), dan itu akan terjadi pada hari Rabu terakhir bulan Shafar. Sehingga dalam upaya tolak bala’ darinya, diadakanlah ritual-ritual tertentu pada hari itu. Di antara ritual tersebut adalah dengan mengerjakan shalat empat raka’at -yang diistilahkan dengan shalat sunnah lidaf’il bala’ (shalat sunnah untuk menolak bala’)- yang dikerjakan pada waktu dhuha atau setelah shalat isyraq (setelah terbit matahari) dengan satu kali salam. Pada setiap raka’at membaca surat Al-Fatihah kemudian surat Al-Kautsar 17 kali, surat Al-Ikhlas 50 kali (dalam referensi lain 5 kali), Al-Mu’awwidzatain (surat Al-Falaq dan surat An-Nas) masing-masing satu kali. Ketika salam membaca sebanyak 360 kali ayat ke-21 dari surat Yusuf yang berbunyi:
وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ.
“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.”
Kemudian ditambah dengan Jauharatul Kamal tiga kali dan ditutup dengan bacaan (surat Ash-Shaffat ayat 180-182) berikut:
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Ritual ini kemudian dilanjutkan dengan memberikan sedekah roti kepada fakir miskin. Tidak cukup sampai di situ, dia juga harus membuat rajah-rajah dengan model tulisan tertentu pada secarik kertas, kemudian dimasukkan ke dalam sumur, bak kamar mandi, atau tempat-tempat penampungan air lainnya.
Barangsiapa yang pada hari itu melakukan ritual tersebut, maka dia akan terjaga dari segala bentuk musibah dan bencana yang turun ketika itu.
Kaum muslimin rahimakumullah, dari mana dan siapakah yang mengajarkan tata cara / ritual ‘ibadah’ seperti itu?
Dalam sebagian referensi disebutkan bahwa di dalam kitab Kanzun Najah karangan Syaikh Abdul Hamid Kudus yang katanya pernah mengajar di Masjidil Haram Makkah Al-Mukarramah, diterangkan bahwa telah berkata sebagian ulama ‘arifin dari ahli mukasyafah[1] bahwa pada setiap tahun akan turun 360.000 malapetaka dan 20.000 bahaya, yang turunnya pada setiap hari Rabu terakhir bulan Shafar. Bagi yang shalat pada hari itu dengan tata cara sebagaimana tersebut di atas, maka akan selamat dari semua bencana dan bahaya tersebut.
Mungkin inilah yang dijadikan dasar hukum tentang ‘disyari’atkannya’ ritual di hari Rebo Wekasan tersebut. Namun ternyata amaliyah yang demikian tidak ada dasarnya sama sekali dari Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Generasi salaf dari kalangan shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in tidak pernah melakukan apalagi mengajarkan ritual semacam itu. Demikian pula generasi setelahnya yang senantiasa mengikuti jejak mereka dengan baik.
Keyakinan tentang Rebo Wekasan sebagai hari turunnya bala’ dan musibah adalah keyakinan yang batil. Lebih batil lagi karena berangkat dari keyakinan tersebut, dilaksanakanlah ritual tertentu untuk menolak bala’ dengan tata cara yang disebutkan di atas. Sementara keyakinan dan ritual tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum, dan tidak pula dicontohkan oleh para imam madzhab yang empat (Abu Hanifah, Malik bin Anas, Asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal), tidak pula mereka membimbing dan mengajak para murid serta pengikut madzhabnya untuk melakukan yang demikian.
Para ulama dan kaum muslimin yang senantiasa menjaga aqidah dan berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya hingga hari ini -sampai akhir zaman nanti- juga tidak akan berkeyakinan dengan keyakinan seperti ini dan tidak pula beramal dengan amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi salaf tersebut.
Jika keyakinan dan ritual ibadah tersebut tidak berdasar pada Al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak pula sebagai amalan para shahabat radhiyallahu ‘anhum dan para imam madzhab yang empat, maka sungguh amalan tersebut bukan bagian dari agama yang murni. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk bimbingan dan petunjuk kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim).
Semoga Allah subhanahu wata’ala senantiasa menjaga kita dan kaum muslimin dari berbagai penyimpangan dalam menjalankan agama ini. Amin.
------------
[1] Istilah ulama ‘arifin (secara bahasa maknanya adalah orang-orang yang mengetahui) dan ahli mukasyafah (secara bahasa maknanya adalah orang-orang yang bisa menyingkap) inipun juga tidak dikenal di kalangan salaf. Istilah ini dikenal di kalangan penganut paham shufiyyah sebagai penamaan bagi orang-orang ‘khusus’ yang mengerti sesuatu tanpa melalui proses belajar, dalam bahasa jawa disebut ngerti sakdurunge winarah. Mereka -yakni ulama ‘arifin dan ahli mukasyafah itu- juga diyakini bisa bertemu langsung dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bahkan bertemu dengan Allah subhanahu wata’ala di dunia maya, sehingga mereka bisa menyingkap sesuatu (dari perkara ghaib) yang tidak bisa diketahui oleh selain mereka.
Ini semua tentunya adalah keyakinan yang batil, dan pembahasan seperti ini sangatlah panjang. Yang penting bagi kita adalah berupaya menjalankan agama ini -beraqidah, beribadah, berakhlak, bermu’amalah, dan lainnya dari urusan diniyyah- benar-benar bersumber dan sesuai dengan bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman as-salafus shalih, bukan pemahaman selain mereka. Wallahu a’lam.
Di antara anggapan dan keyakinan keliru yang terjadi di bulan Shafar adalah adanya sebuah hari yang diistilahkan dengan Rebo Wekasan. Dalam bahasa Jawa ‘Rebo’ artinya hari Rabu, dan ‘Wekasan’ artinya terakhir. Kemudian istilah ini dipakai untuk menamai hari Rabu terakhir pada bulan Shafar (diperkirakan pada bulan Shafar tahun ini (1431 H) bertepatan dengan tanggal 10 Februari 2010). Di sebagian daerah, hari ini juga dikenal dengan hari Rabu Pungkasan.
Apakah Rebo Wekasan itu?
Sebagian kaum muslimin meyakini bahwa setiap tahun akan turun 320.000 bala’, musibah, ataupun bencana (dalam referensi lain 360.000 malapetaka dan 20.000 bahaya), dan itu akan terjadi pada hari Rabu terakhir bulan Shafar. Sehingga dalam upaya tolak bala’ darinya, diadakanlah ritual-ritual tertentu pada hari itu. Di antara ritual tersebut adalah dengan mengerjakan shalat empat raka’at -yang diistilahkan dengan shalat sunnah lidaf’il bala’ (shalat sunnah untuk menolak bala’)- yang dikerjakan pada waktu dhuha atau setelah shalat isyraq (setelah terbit matahari) dengan satu kali salam. Pada setiap raka’at membaca surat Al-Fatihah kemudian surat Al-Kautsar 17 kali, surat Al-Ikhlas 50 kali (dalam referensi lain 5 kali), Al-Mu’awwidzatain (surat Al-Falaq dan surat An-Nas) masing-masing satu kali. Ketika salam membaca sebanyak 360 kali ayat ke-21 dari surat Yusuf yang berbunyi:
وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ.
“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.”
Kemudian ditambah dengan Jauharatul Kamal tiga kali dan ditutup dengan bacaan (surat Ash-Shaffat ayat 180-182) berikut:
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Ritual ini kemudian dilanjutkan dengan memberikan sedekah roti kepada fakir miskin. Tidak cukup sampai di situ, dia juga harus membuat rajah-rajah dengan model tulisan tertentu pada secarik kertas, kemudian dimasukkan ke dalam sumur, bak kamar mandi, atau tempat-tempat penampungan air lainnya.
Barangsiapa yang pada hari itu melakukan ritual tersebut, maka dia akan terjaga dari segala bentuk musibah dan bencana yang turun ketika itu.
Kaum muslimin rahimakumullah, dari mana dan siapakah yang mengajarkan tata cara / ritual ‘ibadah’ seperti itu?
Dalam sebagian referensi disebutkan bahwa di dalam kitab Kanzun Najah karangan Syaikh Abdul Hamid Kudus yang katanya pernah mengajar di Masjidil Haram Makkah Al-Mukarramah, diterangkan bahwa telah berkata sebagian ulama ‘arifin dari ahli mukasyafah[1] bahwa pada setiap tahun akan turun 360.000 malapetaka dan 20.000 bahaya, yang turunnya pada setiap hari Rabu terakhir bulan Shafar. Bagi yang shalat pada hari itu dengan tata cara sebagaimana tersebut di atas, maka akan selamat dari semua bencana dan bahaya tersebut.
Mungkin inilah yang dijadikan dasar hukum tentang ‘disyari’atkannya’ ritual di hari Rebo Wekasan tersebut. Namun ternyata amaliyah yang demikian tidak ada dasarnya sama sekali dari Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Generasi salaf dari kalangan shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in tidak pernah melakukan apalagi mengajarkan ritual semacam itu. Demikian pula generasi setelahnya yang senantiasa mengikuti jejak mereka dengan baik.
Keyakinan tentang Rebo Wekasan sebagai hari turunnya bala’ dan musibah adalah keyakinan yang batil. Lebih batil lagi karena berangkat dari keyakinan tersebut, dilaksanakanlah ritual tertentu untuk menolak bala’ dengan tata cara yang disebutkan di atas. Sementara keyakinan dan ritual tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum, dan tidak pula dicontohkan oleh para imam madzhab yang empat (Abu Hanifah, Malik bin Anas, Asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal), tidak pula mereka membimbing dan mengajak para murid serta pengikut madzhabnya untuk melakukan yang demikian.
Para ulama dan kaum muslimin yang senantiasa menjaga aqidah dan berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya hingga hari ini -sampai akhir zaman nanti- juga tidak akan berkeyakinan dengan keyakinan seperti ini dan tidak pula beramal dengan amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi salaf tersebut.
Jika keyakinan dan ritual ibadah tersebut tidak berdasar pada Al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak pula sebagai amalan para shahabat radhiyallahu ‘anhum dan para imam madzhab yang empat, maka sungguh amalan tersebut bukan bagian dari agama yang murni. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk bimbingan dan petunjuk kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim).
Semoga Allah subhanahu wata’ala senantiasa menjaga kita dan kaum muslimin dari berbagai penyimpangan dalam menjalankan agama ini. Amin.
------------
[1] Istilah ulama ‘arifin (secara bahasa maknanya adalah orang-orang yang mengetahui) dan ahli mukasyafah (secara bahasa maknanya adalah orang-orang yang bisa menyingkap) inipun juga tidak dikenal di kalangan salaf. Istilah ini dikenal di kalangan penganut paham shufiyyah sebagai penamaan bagi orang-orang ‘khusus’ yang mengerti sesuatu tanpa melalui proses belajar, dalam bahasa jawa disebut ngerti sakdurunge winarah. Mereka -yakni ulama ‘arifin dan ahli mukasyafah itu- juga diyakini bisa bertemu langsung dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bahkan bertemu dengan Allah subhanahu wata’ala di dunia maya, sehingga mereka bisa menyingkap sesuatu (dari perkara ghaib) yang tidak bisa diketahui oleh selain mereka.
Ini semua tentunya adalah keyakinan yang batil, dan pembahasan seperti ini sangatlah panjang. Yang penting bagi kita adalah berupaya menjalankan agama ini -beraqidah, beribadah, berakhlak, bermu’amalah, dan lainnya dari urusan diniyyah- benar-benar bersumber dan sesuai dengan bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman as-salafus shalih, bukan pemahaman selain mereka. Wallahu a’lam.
Sumber :
www.assalafy.org/mahad/?p=448#more-448
Selasa, 01 Mei 2012
PENELITIAN ILMIAH TERHADAP ORANG KAYA BARU
Sindrom OKB (Orang Kaya Baru)
Lupa kacang akan kulitnya adalah
sebuah peribahasa.Ungkapan yang layak diberikan pada orang yang lupa akan
dirinya. Dia terkadang melupakan keaadan semula yang telah dilalui sebelumnya. Semua
yang telah diraihnya sekarang, dalam anggapannya hasil yang diraih sekarang adalah usaha
semata-mata dari dirinya. Dia merasa
bahwa telah berusaha maksimal, maka bila
hasil yang diraihnya memuaskan maka itu adalah hasil usaha yang keras.
Lupalah dia kepada siapa yang telah
menciptakannya. Menakdirkan kehidupan yang lalu dan kehidupan yang akan datang
pada dirinya.Tak pernah terlintas dalam pikirannya untuk tujuan apa dia hidup
di dunia. Seakan-akan hidupnya di dunia ini untuk selamanya.Sehingga lupa untuk
mensyukurinya. Marilah kita belajar dari kisah berikut ini.
Dari Abu Hurairoh r.a. katanya
dia mendengar Rasulullah SAW bercerita: “Ada tiga orang Bani Israil penderita cacat,
masing-masing penderita kusta, berkepala botak, dan buta. Allah Taala bermaksud
hendak menguji mereka. Lalu Allah mengirim seorang malaikat kepada mereka.
Mula-mula didatanginya penderita
kusta seraya berkata kepadanya,” Apakah yang paling engkau sukai?” Jawabnya,” Warna dan
kulit yang bagus, serta kesembuhan dari penyakit yang menyebabkan orang jijik
kepadaku.”. Maka diusapnya orang itu, lalu sembuh penyakitnya. Kemudian
diberinya dia warna dan kulit yang bagus. Kata malaikat, “Harta apa yang paling
engkau sukai?” Jawab orang itu, “ Unta!” Lalu diberinya unta bunting yang
hampir beranak. Malaikat mendoakannya, Semoga Allah memberi berkah bagimu
dengan pemberian ini.”
Sesudah itu malaikat mendatangi
orang yang berkepala botak . Katanya, “apa yang paling engkau sukai?” jawab
orang itu, “Rambut indah dan hilangnya aib yang menyebabkan orang benci
kepadaku”. Maka diusapnya orang itu, lalu hilanglah aib dirinya. Kemudian
diberinya pula rambut yang indah. Tanya malaikat, “ Harta apa yang paling
engkau sukai?’ Jawab orang itu, “Sapi!” Maka diberinya orang itu sapi bunting
seraya berkata, “Semoga Allah memberkati kamu dengan pemberian ini.” Kemudian
malaikat mendatangi orang buta seraya berkata, “ Apakah yang paling engkau
sukai?” Jawab orang buta, “Semoga Allah mengembalikan penglihatanku supaya aku
dapat melihat orang banyak.” Maka diusapnya orang buta itu, lalu di dapat
melihat. Kata malaikat, “Harta apa yang paling engkau sukai?” Jawab orang buta,
“Kambing.” Lalu diberinya orang itu kambing serta anaknya. Maka berkembang
biaklah ternak-ternak pemberian malaikat itu. Unta menjadi satu lembah penuh,
sapi menjadi satu lembah penuh, dan kambing penuh satu lembah.
Beberapa waktu kemudian, malaikat
mendatangi si penderita kusta, dengan rupa dan keadaan seperti dia dahulu. Kata
malaikat itu, “Aku seorang miskin. Dan aku kehabisan perbekalan dalam
perjalananku yang masih jauh.sekarang tidak ada yang dapat menyampaikanku ke
tujuan melainkan hanya pertolongan Allah melalui pertolongan anda. Karena itu
ku mohon kepada anda dengan nama Allah yang telah memberi anda warna dan kulit
yang bagus serta ternak unta. Sudilah anda memberiku sekedar perbekalan untuk sampai ke tujuanku.”
Jawab orang itu, “Aku banyak tanggungan.” Kata malaikat, “ Aku seolah-olah
masih ingat kepadamu. Bukankah engkau si penderita kusta yang dijijiki orang dahulu?
Tadinya engkau miskin, lalu diberi Allah rezeki.” Jawab orang itu, “Harta ini
kuwarisi dari nenek moyangku orang terhormat.” Kata Malaikat, “Jika engkau
dusta, maka Allah mengembalikanmu kepada keaadaanmu semula.”
Kemudian didatanginya pula orang botak dengan
rupa sepertinya dahulu seraya berkata kepadanya seperti yang dikatakan malaikat
kepada penderita kusta. Orang itu menolak permintaan malaikat seperti halnya
penderita kusta. Kata Malaikat, “ Jika engkau dusta Allah mengembalikamu kepada
keadaanm semula.” Kemudian didatanginya pula orang buta dengan rupa dan keadaan
seperti orang itu dahulu. Kata malaikat,” Aku miskin dan aku ibnu sabil. Aku
kehabisan perbekalan dalam perjalanan. Tidak ada yang dapat menolong menyampaikan
ke tujuan, melainkan hanya Allah, kemudian anda. Maka kumohon kepada anda atas
nama Allah yang telah mengembalikan penglihatan anda, semoga anda sudi memberikan
seekor kambing supaya aku sampai ke tujuanku.”
Jawab orang buta, “Dahulu aku buta, kemudian Allah mengembalikan
penglihatanku dan diberinya aku ternak ini.Ambillah seberapa engkau perlukan
dan tinggalkan sisanya menurut kehendakmu. Demi Allah aku tidak keberatan
sedikit juapun terhadap apa yang anda ambil karena Allah.” Jawab malaikat, “Tidak!
Tahanlah harta anda. Sesungguh aku hanya menguju anda. Anda sungguh diridhoi
Allah. Sedangkan kedua sahabat anda di murkai Allah.” (Hadist Riwayat Muslim)
Sungguh benar apa yang dikisahkan
diatas, manusia yang beri kenikmatan setelah kesulitan terkadang lupa akan apa
yang telah dialami dahulu. Kenikmatan itu telah membuatnya lupa diri, sehingga
lupa bersyukur. Selamatlah bagi orang yang mau bersyukur. Yaitu orang-orang
yang selalu sadar akan kenikmatan yang telah diberikan Allah kepadanya. Dia
mampu mensyukuri apa yang telah diterimanya, dengan rela memberikan sebagian rezeki
untuk orang yang membutuhkannya.
Saudaraku.... inilah pelajaran
penting yang harus kita perhatikan dalam mengarungi kehidupan di dunia dan
nanti di akhirat. Semoga Allah Ta’ala memberikan kita berkah atas apa yang
telah kita miliki serta mampu mensyukurinya.
DZIKIR YANG DIBACA KETIKA PERJALANAN JAUH
Safar
(perjalanan jauh) merupakan suatu hal yang sukar serta memerlukan kesabaran yang tinggi. Namun di saat
semacam itu, Allah memberikan kita kesempatan untuk banyak berdo’a dan
disaat situlah waktu mustajab, mudah dikabulkan do’a.
Dalam sebuah hadits disebutkan,
ثَلَاثُ
دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ
الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ
“Tiga waktu diijabahi (dikabulkan) do’a yang tidak
diragukan lagi yaitu: (1) do’a orang yang terzholimi, (2) do’a seorang musafir,
(3) do’a orang tua pada anaknya.” (HR. Ahmad 12/479 no. 7510, At Tirmidzi
4/314 no. 1905, Ibnu Majah 2/1270 no. 3862. Syaikh Al Albani menghasankan
hadits ini)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri
mengatakan bahwa safar adalah bagian dari ‘adzab (siksaan). Dari Abu Hurairah,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
السَّفَرُ
قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ
“Safar adalah bagian dari ‘adzab (siksaan)”. (HR.
Bukhari no. 1804 dan Muslim no. 1927)
Artinya safar atau perjalanan jauh itu sungguh akan mendapati kesulitan.
jika anda melakukan safar dari luar negeri kembali ke kampung
halaman. Apalagi jika safar tersebut mesti transit di beberapa kota. Yang
sebelumnya mungkin ditempuh dalam waktu 9 jam, karena mesti transit di kota
lain, akhirnya perjalanan tersebut memakan waktu hampir 24 jam. Apalagi keadaan
di kendaraan atau pesawat yang kurang menyenangkan karena kita tidak bisa tidur
sebagaimana layaknya. Badan tidak bisa direbahkan ke kasur yang empuk. Sungguh amat
menyulitkan.
Ketika kondisi sulit dalam perjalanan jauh,
hati pun akhirnya pasrah. Saat hati begitu pasrah, itulah saat mudah
diijabahinya do’a. Saat kepasrahan hati pada Rabb ‘azza wa jalla, itulah
hakekat ‘ubudiyah (penghambaan), dan
menundukkan diri pada-Nya. Akhirnya seorang hamba pun mengikhlaskan diri
beribadah pada-Nya. Jika kondisi seseorang demikian, maka doa yang ia panjatkan
akan makin mudah diijabahi. Semakin lama seseorang bersafar, semakin dekat pula
do’a itu dikabulkan.
Gunakanlah waktu ketika engkau bersafar untuk banyak memohon segala
kemudahan dari Allah Ta’ala. Mintalah kemudahan dari-Nya atas
urusan safarmu. Begitu pula mohonlah pada Allah agar dimudahkan dalam urusan
dunia lainnya, begitu pula jangan lupakan yang utama doa agar diberi berbagai
kemudahan dalam hisab di akhirat. Jangan lupa doakan atas kebaikan diri,
dijauhkan dari kejelekan diri, begitu pula doakan kebaikan bagi istri, anak,
orang tua, kerabat dan saudara muslim lainnya.
Dzikir saat safar yang bisa diamalkan agar safar jadi lebih
berkah:
Jika sudah berada di atas kendaraan untuk melakukan
perjalanan, hendaklah mengucapkan, “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu
akbar.” Setelah itu membaca,
سُبْحَانَ
الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا
لَمُنْقَلِبُونَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِى سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ
وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا
سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى
السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ
وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ
وَالأَهْلِ
“Subhanalladzi sakh-khoro lanaa hadza wa maa
kunna lahu muqrinin. Wa inna ila robbina lamun-qolibuun. Allahumma innaa
nas’aluka fii safarinaa hadza al birro wat taqwa wa minal ‘amali ma
tardho. Allahumma hawwin ‘alainaa safaronaa hadza, wathwi ‘anna bu’dahu.
Allahumma antash shoohibu fis safar, wal kholiifatu fil ahli. Allahumma inni
a’udzubika min wa’tsaa-is safari wa ka-aabatil manzhori wa suu-il munqolabi fil
maali wal ahli.” (Mahasuci Allah yang telah menundukkan untuk
kami kendaraan ini, padahal kami sebelumnya tidak mempunyai kemampuan untuk
melakukannya, dan sesungguhnya hanya kepada Rabb kami, kami akan kembali. Ya
Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan, taqwa dan amal yang Engkau
ridhai dalam perjalanan kami ini. Ya Allah mudahkanlah perjalanan kami ini,
dekatkanlah bagi kami jarak yang jauh. Ya Allah, Engkau adalah rekan dalam
perjalanan dan pengganti di tengah keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku
berlindung kepada-Mu dari kesukaran perjalanan, tempat kembali yang
menyedihkan, dan pemandangan yang buruk pada harta dan keluarga).
Jadikanlah perjalanan jauh kita menjadi
alat untuk mendekatkan diri kepada Allah Taala, sehingga kita menjadi hamba
yang bertaqwa.
Semoga Allah selalu memberi kemudahan dalam setiap safar
kita. Semoga safar kita adalah safar yang penuh berkah.
PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH
A. JUDUL PENELITIAN
C. LATAR BELAKANG MASALAH
M. DAFTAR PUSTAKA
Arikunto,Suharsimi, dkk.2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara.
Muharjito. (2005). Prinsip-prinsip PTK. Jakarta: Diklat Teknis Penelitian Tindakan Kelas Guru Pendidikan Luar Biasa. Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Pembinaan SLB.
------------, Bahan Belajar Mandiri Penilaian Tindakan Sekolah. Jakarta: Direktorat Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasioanal.
www. Infoskripsi.com
www.lib.uchicago. Edu.
UPAYA
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYUSUN PENELITIAN TINDAKAN KELAS MELALUI LOKAKARYA
INTENSIF TERSRUKTUR BAGI GURU SMP NEGERI
2 PANYINGKIRAN
B. BIDANG KAJIAN
Bidang kajian yang akan
diangkat pada penelitian tindakan sekolah ini adalah kemampuan guru menyusun Penelitian
Tindakan Kelas (PTK). Hal tersebut
merupakan tuntutan profesionalitas seorang guru, selain sebagai tujuan menuju
guru profesional yang dinyatakan dalam simbol angka kredit. Angka kredit adalah
angka ynag diberikan berdasarkan atas prestasi yang telah dicapai oleh seorang
guru. Dalam mengerjakan butir rincian kegiatan yang digunakan sebagai salah
satu syarat untuk pengangkatan dan kenaikan pangkat dalam jabatan guru. Simbol
angka tersebut mencerminkan penilaian kualitas propessional guru.
Khusus untuk kenaikan
pangkat atau jabatan guru Pembina (IVa) keatas, disamping harus memenuhi jumlah
angka kredit juga harus memenuhi angka kredit unsur pengembangan profesi.
Kegiatan pengembangan profesi guru adalah penerapan keterampilan guru untuk
meningkatkan mutu belajar
mengajar menuju guru yang profesional. Salah satu kegiatan tersebuat adalah
melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Keberhasilan suatu
pendidikan tidak dapat dilepaskan dari peranan seorang guru karena guru adalah
komponen yang sangat penting dalam sebuah sistem pendidikan. Kualitas kinerja
seorang guru tidak hanya sebatas menguasai bahan pembelajaran dan menggunakan
metode pembelajaran yang baik, lebih dari itu guru harus mengetahui kebutuhan
peserta didik yang unik dan bervariasi. Guru memberikan pengetahuan,
keterampilan dan sikap kepada anak didiknya secara lengkap sesuai dengan yang
mereka butuhkan. Semua fungsi guru tersebut tidak akan efektif apabila komponen
dari sistem pendidikan tidak berjalan dengan baik, karena kelemahan dari salah
satu komponen akan berpengaruh pada komponen yang lain yang pada akhirnya akan
berpengaruh juga pada jalannya sistem itu sendiri. salah satu dari bagian
komponen sekolah adalah guru.
Pendekatan pencapaian
peningkatan kualitas guru dapat berhasil melalui metode Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) atau Classroom Action
Research (CAR).
Guru dituntut untuk mampu
menguasai kurikulum, menguasai materi, menguasai metode, dan tidak kalah
pentingnya guru juga harus mampu mengelola kelas sedemikian rupa sehingga
pembelajaran berlangsung secara aktif, inovatif dan menyenangkan. Namun
demikian, menurut Erman Suherman (http : educare.e-fkipunla.net), umumnya guru
masih mendominasi kelas, siswa pasif ( datang, duduk, nonton, berlatih, …., dan
lupa). Guru memberikan konsep, sementara siswa menerima bahan jadi. Masih
menurut Erman Suherman, ada dua hal yang menyebabkan siswa tidak menikmati
(enjoy) untuk belajar, yaitu kebanyakkan siswa tidak siap terlebih dahulu
dengan (minimal) membaca bahan yang akan dipelajari, siswa datang tanpa bekal
pengetahuan seperti membawa wadah kosong. Lebih parah lagi, siswa tidak
menyadari tujuan belajar yang sebenarnya, tidak mengetahui manfaat belajar bagi
masa depannya nanti.
Berdasarkan pengamatan penulis di ….,
terdapat beberapa kendala pada pembelajaran
selama ini antara lain :
1. Siswa mengalami kesulitan
dalam memahami konsep.
2. Siswa kurang aktif / siswa
pasif dalam proses pembelajaran.
3. Siswa belum terbiasa untuk
bekerja sama dengan temannya dalam belajar.
4. Guru kurang mengaitkan
materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
5. Hasil nilai ulangan /
hasil belajar siswa pada pembelajaran rendah.
6. KKM tidak tercapai.
7. Pembelajaran tidak
menyenangkan bagi siswa.
8. Kurangnya minat siswa
terhadap pembelajaran.
Sebagai pendidik, penulis
melihat pembelajaran menjadi kurang efektif karena hanya cenderung
mengedepankan aspek intelektual dan mengesampingkan aspek pembentukan karakter.
Hal ini tentu suatu hambatan bagi guru. Namun penulis ingin mengubah hambatan
tersebut menjadi sebuah kekuatan dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar
yang efektif dan efisien sehingga nantinya akan mendapatkan hasil yang
memuaskan.
Untuk menjawab hal itu,
penulis mencoba memberi solusi kepada guru-guru untuk menyusun sebuah
Penelitian Tindakan Kelas. Dengan menyusun PTK, membantu guru memecahkan
permasalahan yang terjadi di kelas dan meningkatkan kegiatan guru dalam
pengembangan profesionalnya.
D. RUMUSAN MASALAH
1. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah
yang diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut “Apakah dengan diklat PTK terstruktur dapat meningkatkan
kemampuan penyusunan PTK bagi guru SMPN 2 Panyingkiran ? ”
2. Pertanyaan Penelitian
Secara operasional rumusan masalah di
atas dapat dijabarkan menjadi beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1. Apakah diklat terstruktur
PTK dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun PTK?
2. Apa saja Hambatan yang
dihadapi guru dalam menyusun PTK ?
3. Bagaimana respon guru
terhadap pendidikan dan latihan PTK terstruktur tersebut?
E. CARA PEMECAHAN MASALAH
PTS ini dilaksanakan
dengan pemberian pendidikan dan latihan PTK secara berstruktur bagi guru SMPN 2
Panyingkiran. pada bidang studi Matematika, IPA, Bahasa Inggris, dan Bahasa
Indonesia.
F. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
1. Tujuan Penelitian Sesuai dengan
permasalahan yang telah dirumuskan, maka penelitian ini bertujuan untuk :
1. Untuk mengetahui apakah diklat
PTK terstuktur cukup efektif dalam meningkatkan kemampuan menyusun PTK bagi
guru .
2. Untuk mengetahui
kendala-kendala apa saja yang dihadapi guru dalam menyusun PTK.
3. Untuk mengetahui hasil
dari diklat PTK terstruktur terhadap peningkatan kemampuan guru dalam menyusun
PTK.
2. Manfaat Penelitian Penelitian
tindakan sekolah ini, dilakukan dengan harapan memberikan manfaat bagi guru,
sekolah, maupun siswa.
a. Manfaat bagi guru :
1. Memperoleh pengalaman
belajar yang lebih menarik.
2. Meningkatkan kemampuan
guru dalam memecahkan masalah yang ada dalam kelas.
3. Meningkatkan penguasaan
konsep.
4. Menumbuhkan motivasi dalam
menyusun PTK pada guru.
b. Manfaat bagi siswa:
1. Memperoleh
pengalaman belajar yang lebih menarik.
2. Meningkatkan
aktivitas siswa di dalam belajar.
3. Meningkatkan penguasaan
materi pembelajaran.
4. Menumbuhkan
keberanian mengemukakan pendapat dalam kelompok/ membiasakan bekerja sama
dengan teman
c. Manfaat bagi sekolah :
1. Meningkatkan prestasi
sekolah dalam bidang akademis.
2. Meningkatkan kinerja
sekolah melalui peningkatan profesionalisme guru.
G. HIPOTESIS TINDAKAN
Hipotesis dalam penelitian
tindakan ini adalah :
”Dengan menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan latihan PTK terstruktur dapat meningkatkan kemampuan menyusun PTK bagi Guru SMPN 2 Panyingkiran”
”Dengan menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan latihan PTK terstruktur dapat meningkatkan kemampuan menyusun PTK bagi Guru SMPN 2 Panyingkiran”
H. KAJIAN TEORI
Pada bagian ini, penulis
bermaksud mengemukakan beberapa hal yang berhubungan dengan teori dan
pengertian untuk dijadikan pedoman dalam penyusunan PTS ini, sebagai gambaran
yang tentu ada kaitannya dengan materi pembahasan. Isinya berupa teori-teori
yang diambil dari berbagai sumber.
PTK atau Penelitian
Tindakan Kelas adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya
sendiri (dilakukan dalam pembejaran biasa bukan kelas khusus). Ada beberapa
ahli yang mencoba mendefinisikan penelitian tindakan kelas (PTK), diantaranya,
David Hopkins (1993), menurutnya PTK adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh
guru atau kelompok guru untuk menguji anggapan-anggapan dari suatu teori
pendidikan dalam praktek, atau sebagai arti dari Evakuasi dan melaksanakan
seluruh prioritas program sekolah. Sementara itu, menurut Russeffendi (1999)
penelitian kelas merupakan suatu tindakan yang terarah, terencana, cermat, dan
penuh perhatian yang dilakukan oleh praktisi pendidikan (guru) terhadap
permasalahan yang ada dalam kelas yang bertujuan untuk memperbaiki pendidikan
seperti metode mengajar, kurikulum, dan sebagainya.
Nelson Siregar menyebutkan
bahwa penelitian tindakan kelas adalah suatu upaya untuk menjelaskan berbagai
aspek dari hubungan antarketergantungan materi-subjek, pembelajar, dan pengajar
sehubungan dengan isu totalitasdan logika internal dari tugas social
mengkonstruksi pengetahuan dari PBM.
PTK dilakukan dengan jalan
merancang, melaksanakan dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan
partisipatif. Tujuannya adalh untuk memperbaiki kinerja guru yang
bersangkutansupaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Focus PTK adalah
pada siswa atau pada proses belajar mengajar yang terjadi di kelas. Hasil dari
PTK ini dapat ditulis sebagai Karya Tulis Ilmiah. Dalam penelitian ini, guru
berperan sebagai pengajar sekaligus pengumpul data.
PTK adalah kajian tentang
situasi social dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan didalamnya
(Elliot, 1982). Seluruh proses, telaah, diagnosis, perencaan, pelaksanaan,
pemantauan dan pengaruhnya menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi
diri dari perkembangan profesional.
Program pengembangan
profesi guru salah satunya dengan mengadakan kegiatan pendidikan dan pelatihan
penyusunan PTK bagi guru, dengan harapan memberikan pengalaman dalam penerapan
keterampilan guru untuk meningkatkan mutu belajar mengajar, atau menghasilkan
sesuatu yang bermanfaat bagi pendidikan.
Berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan tersebut diperlukan kegiatan bimbingan terstruktur
mengenai teknis penyusunan PTK bagi guru SMP Negeri 2 Panyingkiran, seiring
dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam peningkatan
kualitas profesionalitas guru serta tuntutan system penilaian kinerja guru
yang telah ditetapkan berdasarkan pada Peraturan
pemerintah nomor 3 tahun 1980, KEP MENPAN No 26 tahun 1989, dan diubah dengan
KEP MENPAN No. 84 Tahun 1993, dan dijabarkan dalam SKB Mendikbud dan BKN No.
433/P/1993 DAN No.25 Tahun 1993, serta JUknis Mendikbud No. 025/O/1995 juga
dikuatkan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007
tentang Sertifikasi bagi guru dalam Jabatan. Adapun butir-butir sebagai bidang
dan unsure kegiatan yang termasuk kepada penilaian kredit guru adalah membuat
karya tulis ilmiah, yang salah satunya berwujud penilaian tindakan kelas (PTK).
A. Pengertian Pendidikan dan Pelatihan
Peningkatan kemampuan guru
dalam menyusun PTK dapat dilakukan dengan melalui pembinaan kepala sekaolah,
melalui kegiatan lokakarya, melalui workshop, melalui Focus Group Discussion
(FGD), melalui kerja kelompok, melalui MGMP, termasuk diantaranya melalui
lokakarya PTK intensif terstruktur.
B. Manfaat yang diharapkan dari
Lokakarya PTK intensif terstruktur ini adalah:
1. Meningkatkan kemampuan guru dalam
pengembangan dan penyusunan PTK.
2. Menyatukan pengetahuan mengenai
teknis penyusunan PTK.
C. Tahapan Pelaksanaan kegiatan
1. Kegiatan
dilaksanakan di sekolah. Dengan mengundang Nara sumber yang berkompeten pada
penyusunan PTK.
2. Penyusunan daftar peserta nara
sumber dan struktur program kegiatan.
D. Langkah-langkah Pelaksanaan
kegiatan Lokakarya
1. Bimbingan teknis penyusunan PTK
2 . Bimbingan perencanaan (planning)
PTK
3. Bimbingan Pelaksanaan (acting)
PTK.
4. Bimbingan Pengamatan (observing)
PTK
5. Bimbingan refleksi (reflecting)
PTK
E. Model Pelaksanaan
1. Pemberian Bimbingan teknis melalui
penjelasan teori penyusunan PTK
2. Pemodelan dan diskusi.
3. Praktek penyusunan PTK.
4. Pemberian Tugas Terstruktur
tahapan penyusunan PTK.
I. METODOLOGI PENELITIAN
I.
subjek dalam penelitian ini adalah guru SMP NEGERI 2 PANYINGKIRAN.
berjumlah 27 orang dengan kemampuan menyusun PTK yang masih heterogen.
1. Faktor hasil kegiatan berupa
hasil PTK yang telah dibuat.
2. Faktor guru, mengamati
aktivitas guru-guru bagaimana guru membuat skenario pembelajaran dan menentukan
topik yang sulit bagi anak tetapi akan menarik pada saat disajikan di kelas
3. Faktor siswa, bagaimana
respon siswa pada saat melaksanakan pembelajaran.
II. Prosedur Penelitian
Penelitian ini tergolong Penelitian
Tindakan Sekolah, Dengan empat langkah pokok yaitu : Perencanaan tindakan,
Pelaksanaan tindakan, Pengamatan (observasi), dan Refleksi, dengan melibatkan 27orang
guru SMPN 2 Panyingkiran.n dua tahapan secara berkelanjutan selama 7 bulan.
Indikator kinerja yang ditetapkan adalah peningkatan mutu pembelajaran dilihat
dari hasil evaluasi, respon siswa terhadap pembelajaran dan keaktifan guru
dalam kelompok MGMP. Aspek yang diukur dalam observasi adalah antusiasme guru,
interaksi guru dengan kepala sekolah, interaksi dengan guru dalam MGMP, kerja
sama kelompok, aktivitas dalam diskusi kelompok.
1. Perencanaan Tindakan
a.
Menyusun rencana kegiatan lokakarya.
b.
Menyusun review PTK
c.
Pemberian latihan berupa pemodelan dan diskusi.
d.
Pelatihan tahapan penyusunan PTK
e. Evaluasi pelaksanaan bimbingan
teknis PTK
2. Pelaksanan Tindakan
Menerapkan pelaksanan tindakan sesuai
dengan rencana-rencana tindakan:
1. Setiap peserta menerima
bimbingan teori penyusunan PTK yang di tuliskan dalam jurnal belajar .
2. Guru diberi tugas untuk
mencari contoh studi kasus sebagai dasar perencanaan penyususnan PTK.
3. Guru diminta untuk
menpresentasikan tugas-tugas yang diberikan dan ditanggapi oleh peserta
lainnya.
4. Guru melaksanakan peer
teaching sebagai pengambilan data .
3. Pengamatan (observasi)
1. Observer melakukan
pengamatan sesuai rencana dengan menggunakan lembar observasi
2. Menilai tindakan dengan
menggunakan format evaluasi.
3. Pada tahap ini seorang
guru melakukan implementasi rencana yang telah disusun, pakar dan guru lain
melakukan observasi dengan menggunakan lembar observasi yang telah
dipersiapkan. Selain itu dilakukan pemotretan yang meng-close up
kejadian-kejadian khusus selama pelaksanaan lokakarya penyusunan PTK.
4. Refleksi
1. Pertemuan refleksi segera
dilakukan secepatnya setelah kegiatan pelaksanaan pembelajaran, untuk
memperoleh masukan dari guru observer, dan akhirnya komentar dari dosen atau
pakar luar tentang keseluruhan proses serta saran sebagai peningkatan kemampuan
penyusunan PTK.
2. Mengevaluasi tindakan yang
telah dilakukan dan mendiskusikan tindakan bersama dengan pengamat/observer.
3. Kesan penyaji materi
bimbingan PTK.
4. Tanggapan-tanggapan
observer yang difokuskan pada bimbingan
praktek penyusunan PTK
5. Kesimpulan dan saran untuk
perbaikan pada tahap berikutnya.
Penelitian tindakan sekolah ini berhasil apabila :
1. Peningkatan kemampuan
peserta lokakarya dalam penyusunan PTK.
2. Motivasi Guru sebagai
peserta dalam menyusun PTK dapat meningkat.
3. peserta dapat merasakan adanya
permasalahan dalam kegiatan belajar mengajar yang sering dilakukan.
4. Peserta dapat memiliki
kemampuan dalam menganalisis masalah.
5. Peserta bimbingan dapat
merumuskan masalah masalah yang mereka alami dalam keseharian mengajar.
6. Peserta dapat membuat laporan
PTK sesuai dengan standar yng telah disepakati.
III. Data dan pengambilan Data
No Sumber Data Jenis Data Teknik Pengumpulan Instrumen
1. Laporan PTK yang dibuat
oleh guru atau peserta bimbingan yang telah memenuhi standar.
2. Motivasi guru dalam
membuat laporan PTK meningkat dengan indicator kemampuan melihat permasalahan
yang muncul dalam proses KBM yang ditunjukkan dalam catatan-catatan
permasalahan dalam proses KBM.
3. Respon dari siswa setelah
guru melakukan perbaikan-perbaikan proses KBM yang mereka lakukan dengan
dibuktikan dari hasil angket yang dilakukan pada siswa.
J. INDIKATOR KEBERHASILAN
Penelitian tindakan sekolah ini
berhasil apabila :
1. Peningkatan kemampuan
peserta dalam penyususnan PTK
2. Motivasi guru sebagai
peserta dalam menyusun PTK dapat meningkat.
3. peserta dapat merasakan
adanya permasalahan dalam kegiatan belajar mengajar yang sering dilakukan.
4. Peserta dapat memiliki
kemampuan dalam menganalisis masalah.
5. Peserta bimbingan dapat
merumuskan masalah masalah yang mereka alami dalam keseharian mengajar.
6. Peserta dapat membuat
laporan PTK sesuai dengan standar yng telah disepakati.
L. JADWAL KEGIATAN
Adapun jadwal
kegiatan yang dilaksanakan dalam kegiatan Penyusunan Laporan Tindakan Sekolah
ini adalah sebagai berikut:
No
|
Jenis Kegiatan
|
Bulan
|
Minggu
|
1.
|
Penyusunan rencana kegiatan
|
Januari 2011
|
kedua
|
2.
|
Pelaksanaan Kegiatan
|
Januari 2011
|
Ketiga
|
3.
|
Analisa hasil kegiatan siklus I
|
Januari 2011
|
Keempat
|
4.
|
Pelaksanaan Kegiatan
|
Februari 2011
|
Pertama
|
5.
|
Analisa hasil kegiatan siklus II
|
Februari 2011
|
Kedua
|
6.
|
Analisa Hasil Penelitian
|
Februari 2011
|
ketiga
|
7.
|
Penyusunan Laporan PTS
|
Maret 2011
|
pertama
|
Arikunto,Suharsimi, dkk.2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara.
Muharjito. (2005). Prinsip-prinsip PTK. Jakarta: Diklat Teknis Penelitian Tindakan Kelas Guru Pendidikan Luar Biasa. Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Pembinaan SLB.
------------, Bahan Belajar Mandiri Penilaian Tindakan Sekolah. Jakarta: Direktorat Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasioanal.
www. Infoskripsi.com
www.lib.uchicago. Edu.
Langganan:
Komentar (Atom)